NUS Beri Akses ChatGPT Gratis, Wajibkan Kuliah AI untuk Mahasiswa Baru

Jakarta, CNN Indonesia —
Universitas Nasional Singapura atau National University of Singapore (NUS) memberikan akses ChatGPT kepada mahasiswa, dosen, dan staf. Kampus yang menempati posisi teratas universitas terbaik di Asia itu juga mewajibkan seluruh mahasiswa baru mengikuti mata kuliah kecerdasan buatan (AI).
Kebijakan tersebut mulai diterapkan pada tahun akademik 2026/2027 sebagai bagian dari strategi NUS menghadapi perkembangan teknologi AI di dunia pendidikan.
NUS mengumumkan kerja sama dengan OpenAI pada 11 Agustus melalui laman resminya. Melalui kemitraan ini, dosen dan staf NUS akan mendapatkan akses ke ChatGPT Edu mulai 31 Agustus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ChatGPT Edu merupakan versi ChatGPT yang dirancang khusus untuk institusi pendidikan tinggi. Berbeda dari versi gratis, layanan ini memberikan akses yang lebih luas terhadap kemampuan inti OpenAI dalam lingkungan yang dikelola universitas.
Platform tersebut dilengkapi fitur privasi, keamanan, dan kontrol administratif yang lebih kuat. NUS juga memastikan data serta percakapan yang dilakukan dalam ruang kerja kampus tidak akan digunakan untuk melatih model AI OpenAI.
Melansir VNExpress, NUS sendiri berada di posisi teratas di antara universitas Asia dalam QS World University Rankings 2027 yang dirilis lembaga pemeringkat asal Inggris, Quacquarelli Symonds (QS).
Chief Information Technology Officer sekaligus Vice President NUS, Tan Shui-Min, mengatakan penggunaan AI di lingkungan kampus harus dilakukan secara aman dan berkelanjutan.
“Seiring AI semakin terintegrasi dalam cara NUS beroperasi, penting bagi kami untuk mengadopsinya secara aman, terukur, dan berkelanjutan,” kata Tan dalam pernyataan universitas.
Sementara itu, Deputy President (Academic Affairs) sekaligus Provost NUS, Profesor Aaron Thean, menegaskan teknologi AI tidak ditujukan untuk menggantikan kemampuan manusia. Menurut dia, AI justru akan digunakan untuk memperkuat kemampuan berpikir, kreativitas, dan penilaian manusia.
“Kami bertujuan memanfaatkan teknologi AI canggih ini bukan sebagai pengganti, tetapi sebagai penguat kemampuan intelektual, kreativitas, dan penilaian manusia,” ujar Thean.
Mahasiswa baru wajib belajar AI
Mulai tahun akademik 2026/2027, seluruh mahasiswa sarjana tahun pertama NUS diwajibkan menyelesaikan mata kuliah dasar tentang AI generatif. Mata kuliah tersebut bernama THE1008 Applied Generative AI: From Prompting to Evaluation dan akan menjadi bagian dari program Transition to Higher Education (T.H.E.).
Melalui mata kuliah ini, mahasiswa akan mempelajari keterampilan praktis dalam menggunakan large language model (LLM) serta berbagai perangkat AI multimodal. Materi pembelajaran tidak hanya mengajarkan cara membuat perintah atau prompt. Mahasiswa juga akan dilatih untuk mengevaluasi hasil yang diberikan AI secara kritis dan akurat.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi NUS untuk memasukkan kompetensi AI ke dalam berbagai jenjang pendidikan di kampus. Setelah menyelesaikan mata kuliah dasar tersebut, kemampuan AI mahasiswa akan terus dikembangkan melalui kurikulum umum maupun program studi masing-masing.
NUS menargetkan mahasiswa tidak sekadar mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami kapan dan bagaimana teknologi tersebut digunakan secara tepat. Saat lulus, mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan AI secara strategis, menilai informasi yang dihasilkan AI secara kritis, serta menerapkannya sesuai kebutuhan bidang studi masing-masing.
NUS juga menekankan pentingnya kemampuan yang tetap berpusat pada manusia. Penggunaan AI akan dibarengi dengan pengembangan kemampuan berpikir kritis, penilaian, pengambilan keputusan, dan pemaknaan informasi.
Dalam jangka panjang, mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan AI untuk membantu analisis, pemecahan masalah, hingga pekerjaan kreatif di berbagai bidang.
NUS juga tidak berencana bergantung pada satu perusahaan AI saja. Kampus tersebut akan mengembangkan kerja sama dengan sejumlah perusahaan teknologi untuk memberikan mahasiswa kesempatan mencoba berbagai platform AI. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mengenal satu alat, tetapi dapat memahami beragam teknologi AI dan memilih platform yang paling sesuai dengan kebutuhan akademik maupun profesional mereka.
(tis/tis)
Artikel terkait
Berita terbaru
Sesi Kedua Majelis Nasional ke-16: Bertekad mewujudkan target pertumbuhan dua digit.
Selama pekan lalu (26-31 Oktober), selain memberikan pendapat tentang rancangan undang-undang utama mengenai keamanan, ekonomi, dan manajemen administrasi, Majelis Nasional mendedikasikan dua sesi akhir...
Mundari akui Isenmulang FC kalah kualitas dari Persib, soroti kesalahan fatal
Pelatih Isenmulang FC Mundari Karya secara terbuka mengakui timnya masih kalah kualitas dari Persib Bandung setelah menelan kekalahan telak 0-4 pada pekan kedelapan BRI...
Masih Trauma Abu Anak Krakatau, Warga Bandar Lampung Kritik Lambatnya Informasi Pemerintah
Warga bandar Lampung menyoroti lambatnya informasi pemerintah terkait Anak Krakatau yang berimbas mereka terlambat merespons abu turun.
NTV SPORTCAST: Bung Harpa Bongkar Sederet Kejanggalan Film Timnas “Longest Wait”
Menurutnya, sebuah film dokumenter seharusnya bertindak sebagai dokumen fakta yang disusun secara holistik dan kronologis, bukan sekadar potongan-potongan dramatisasi tanpa alur yang jelas.
