Masih Trauma Abu Anak Krakatau, Warga Bandar Lampung Kritik Lambatnya Informasi Pemerintah
Warga bandar Lampung menyoroti lambatnya informasi pemerintah terkait Anak Krakatau yang berimbas mereka terlambat merespons abu turun.

Menurut dia, keterlambatan informasi membuat warga kesulitan mengambil langkah perlindungan. Padahal, tidak semua masyarakat selalu mengakses media sosial atau membaca berita melalui telepon genggam.
“Tidak semua orang membuka media sosial, tidak semua orang membaca berita, dan tidak semua orang pegang HP setiap saat,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Kanita, warga Bandar Lampung lainnya. Ia mengaku masih trauma dengan abu vulkanik yang saat itu terus mengotori rumah dan membuatnya takut beraktivitas di luar.
“Trauma, masih. Debunya seperti tidak hilang-hilang. Saya sampai merasa terganggu saat bernapas lebih dari dua minggu dan pusing. Semua lubang angin di rumah ditutup,” kata Kanita.
Ia juga mengingat anaknya sempat berada di luar rumah ketika abu turun. Situasi itu membuatnya khawatir karena keluarga tidak memperoleh informasi lebih awal mengenai sebaran abu.
Bagi Kanita, persoalan saat kejadian bukan hanya abu yang menyebar, melainkan kesiapan warga menghadapi dampaknya. Ia mengaku kesulitan mendapatkan masker ketika masyarakat ramai-ramai mencari perlindungan.
“Orang-orang sampai sakit, mau mencari masker saja susah. Kenapa tidak cepat dibagikan? Warga sampai berjubel antre membeli masker,” ujarnya.
Kanita juga mengingat aktivitas sekolah anak-anak sempat terganggu. Ia berharap pemerintah dapat menyampaikan peringatan lebih cepat sekaligus memastikan perlengkapan perlindungan tersedia ketika kondisi darurat terjadi.
Sementara itu, Mugiyono menilai penyebaran informasi tidak seharusnya hanya mengandalkan media sosial. Pemerintah perlu menggunakan jalur komunikasi yang menjangkau warga hingga lingkungan terkecil.
Ia mengusulkan informasi disampaikan melalui ketua RT, grup komunikasi pemerintahan, hingga pengeras suara masjid apabila situasi mendesak.
Sumber: Kompas.com. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Sesi Kedua Majelis Nasional ke-16: Bertekad mewujudkan target pertumbuhan dua digit.
Selama pekan lalu (26-31 Oktober), selain memberikan pendapat tentang rancangan undang-undang utama mengenai keamanan, ekonomi, dan manajemen administrasi, Majelis Nasional mendedikasikan dua sesi akhir...
Mundari akui Isenmulang FC kalah kualitas dari Persib, soroti kesalahan fatal
Pelatih Isenmulang FC Mundari Karya secara terbuka mengakui timnya masih kalah kualitas dari Persib Bandung setelah menelan kekalahan telak 0-4 pada pekan kedelapan BRI...
NTV SPORTCAST: Bung Harpa Bongkar Sederet Kejanggalan Film Timnas “Longest Wait”
Menurutnya, sebuah film dokumenter seharusnya bertindak sebagai dokumen fakta yang disusun secara holistik dan kronologis, bukan sekadar potongan-potongan dramatisasi tanpa alur yang jelas.
Tanggal Merah 2027: Ada 18 Hari Libur Nasional dan 8 Cuti Bersama
Tanggal Merah 2027: Ada 18 Hari Libur Nasional dan 8 Cuti Bersama
