Sunday, 8 November 2026

Terkini
Bola

Sepuluh Gol, Dua Kepala Daerah, Satu Bahasa Kepemimpinan: Gus Barra dan Subandi Berbagi Drama di Gelora Delta

SIDOARJO | KEMPALAN — Sepuluh gol, dua kepala daerah, dan satu pesan tentang kepemimpinan. Stadion Gelora Delta Sidoarjo menjadi saksi sebuah pertandingan yang lebih dari…

Sumber foto: Kempalan.com

SIDOARJO | KEMPALAN — Sepuluh gol, dua kepala daerah, dan satu pesan tentang kepemimpinan. Stadion Gelora Delta Sidoarjo menjadi saksi sebuah pertandingan yang lebih dari sekadar adu ketangkasan mengolah bola. Dalam laga persahabatan antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo dan Pemkab Mojokerto, Minggu (8/11/2026) sore, kedua kesebelasan bermain imbang 5-5 dalam duel terbuka yang menghadirkan hiburan sekaligus mempertemukan dua pemimpin daerah dalam suasana tanpa sekat birokrasi.

Bupati Sidoarjo H. Subandi memperkuat tim tuan rumah, sedangkan Bupati Mojokerto H. Muhammad Al Barra, yang akrab disapa Gus Barra, turun langsung membela tim tamu. Bukan sekadar hadir sebagai undangan kehormatan, keduanya benar-benar menjadi bagian dari permainan. Gus Barra bahkan mencetak dua gol, memperlihatkan bahwa kedekatannya dengan sepak bola bukan sekadar aktivitas seremonial seorang kepala daerah.

Di balik skor yang mencolok, pertandingan ini menyimpan makna yang lebih luas. Lapangan hijau menjadi ruang perjumpaan dua pemerintahan daerah untuk merawat komunikasi, mempererat silaturahmi, sekaligus membangun kedekatan antarpimpinan dan jajaran aparatur sipil negara (ASN).

Gus Barra dan sepak bola sebagai identitas

Bagi Gus Barra, sepak bola bukan kegemaran yang muncul karena tuntutan agenda pemerintahan. Kecintaan terhadap olahraga paling populer di dunia itu telah tumbuh jauh sebelum dirinya memimpin Kabupaten Mojokerto.

Saat menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Mesir, ia terbiasa bermain sepak bola bersama masyarakat setempat. Pengalaman tersebut membentuk kedekatannya dengan olahraga yang tidak mengenal batas bahasa, latar belakang, maupun status sosial.

Ia juga mengagumi Mohamed Salah, pesepak bola asal Mesir yang dikenal melalui kiprahnya di panggung internasional. Kekaguman Gus Barra tidak semata-mata tertuju pada kemampuan teknis Salah, tetapi juga pada sikap dan keteladanan yang ditunjukkannya sebagai seorang muslim di tengah sorotan dunia.

Baginya, sepak bola memiliki ruang sosial yang luas. Nilai sportivitas, kedisiplinan, persaudaraan, dan keteladanan dapat disampaikan melalui perilaku di lapangan tanpa harus selalu hadir dalam bentuk nasihat verbal.

Kecintaan tersebut kemudian diwujudkan melalui aktivitas sepak bola bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Gus Barra memiliki tim yang dikenal dengan nama Gus Barra FC, yang melibatkan pegawai pemerintah daerah.

Sejumlah pertandingan persahabatan menjadi bagian dari aktivitas tim tersebut. Pada Januari 2026, Gus Barra FC pernah mengalahkan KONI FC Mojokerto dengan skor 7-1. Dalam pertandingan itu, Gus Barra turut menyumbangkan dua gol. Pada Maret 2026, ia kembali mencetak dua gol ketika Albarraa FC mengalahkan tim PGRI dengan skor 8-0.

Dukungan terhadap sepak bola juga ditunjukkannya melalui kegiatan nonton bareng pertandingan tim nasional Indonesia di Pendopo Graha Majatama. Aktivitas tersebut menjadi salah satu cara menghadirkan sepak bola sebagai ruang kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat.

Subandi: kemenangan bukan satu-satunya tujuan

Di kubu tuan rumah, Subandi memandang pertandingan tersebut dari perspektif yang lebih mendasar: membangun komunikasi dan memperkuat soliditas internal pemerintahan.

Ia tidak menempatkan hasil akhir sebagai ukuran keberhasilan. Menurutnya, pertandingan persahabatan justru memberikan kesempatan bagi pimpinan daerah dan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) untuk berinteraksi dalam suasana yang lebih cair.

Subandi mengakui performa timnya belum sepenuhnya optimal. Komposisi pemain yang banyak diisi kepala OPD dan ASN senior menjadi salah satu tantangan tersendiri. Namun, hal tersebut tidak mengurangi antusiasme untuk menikmati pertandingan.

“Tujuannya agar komunikasi antara pimpinan dan jajaran kita bagus. Kalau komunikasi sudah baik, ketika ada segala sesuatu, tidak ada hambatan,” ujar Subandi seusai pertandingan.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ada tujuan yang lebih penting daripada sekadar mengejar kemenangan. Sebab, koordinasi pemerintahan tidak hanya dibangun melalui rapat, instruksi, dan mekanisme administratif. Kedekatan personal juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang solid.

Di lapangan, sekat jabatan seolah mencair. Para pejabat dan aparatur pemerintahan berinteraksi melalui permainan, saling memberikan umpan, membangun serangan, hingga merayakan gol bersama.

Sepuluh gol dan peluang memperluas persahabatan

Keseruan pertandingan semakin terasa dengan kontribusi Ketua KONI Sidoarjo, M. Rafi Wibisono, yang turut mencetak dua gol. Kehadirannya memperlihatkan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan unsur kepala daerah, tetapi juga elemen olahraga yang memiliki peran dalam pembinaan prestasi.

Gus Barra memberikan apresiasi terhadap kualitas lapangan Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Menurutnya, kondisi lapangan yang baik membuat para pemain nyaman dan dapat menikmati pertandingan hingga peluit akhir.

Ia juga menyampaikan harapan agar pertandingan serupa dapat kembali digelar di Kabupaten Mojokerto. Bahkan, Gus Barra berencana mengajak kepala daerah lainnya untuk terlibat dalam kegiatan persahabatan tersebut.

Gagasan itu membuka peluang bagi sepak bola menjadi jembatan komunikasi antardaerah. Pertandingan persahabatan tidak harus berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi tradisi positif yang mempertemukan pemerintah daerah melalui aktivitas olahraga.

Ketika sepak bola berbicara lebih jauh daripada skor

Hasil imbang 5-5 memang menjadi catatan paling mencolok dari pertandingan di Gelora Delta. Sepuluh gol yang tercipta menghadirkan tontonan terbuka, penuh dinamika, dan jauh dari kesan pertandingan formal.

Namun, nilai terpentingnya justru terletak pada sesuatu yang tidak tercantum di papan skor.

Sepak bola mempertemukan dua kepala daerah dalam ruang yang relatif setara. Tidak ada podium kehormatan, meja rapat, atau protokoler yang membatasi interaksi. Yang ada hanyalah lapangan, rekan setim, lawan tanding, dan semangat untuk bermain bersama.

Di situlah olahraga memperlihatkan kekuatan sosialnya. Ia bukan hanya instrumen untuk mengejar prestasi, melainkan juga medium membangun karakter, memperkuat persaudaraan, dan membuka komunikasi lintas institusi.

Momentum tersebut terasa relevan ketika Jawa Timur tengah menggelar Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XV 2026 di Kabupaten Ngawi. Di tengah perjuangan para atlet pelajar mengejar prestasi, pertandingan Subandi dan Gus Barra menghadirkan gambaran lain tentang esensi olahraga: kompetisi boleh berlangsung sengit, tetapi persaudaraan tidak boleh terputus.

Sebab, sepak bola tidak selalu membutuhkan pemenang untuk melahirkan kemenangan. Di Gelora Delta, skor 5-5 mungkin mengakhiri pertandingan tanpa pemenang, tetapi silaturahmi, komunikasi, dan kebersamaan justru menjadi hasil yang layak dirayakan.

Sepuluh gol telah tercipta. Namun, pesan yang tertinggal jauh lebih panjang daripada 90 menit pertandingan.(*)

Pewarta : Mochammad Fasichullisan Editor: Ambari Taufiq

Sumber: Kempalan.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *