SEJARAH besar pernah tertoreh di Tanah Air saat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 memancarkan Dasasila Bandung.
Dimana, sepuluh prinsip tersebut bukan sekadar teks diplomatik, melainkan fondasi bagi tatanan dunia alternatif yang menjunjung tinggi kedaulatan, semangat non-intervensi, dan komitmen penyelesaian konflik secara damai.
Lebih dari itu, Dasasila Bandung, merupakan pernyataan tegas melawan segala rupa penjajahan.
Semangat tersebut, kemudian menjadi ruh bagi lahirnya Gerakan Non-Blok, dan mempererat solidaritas kerja sama Selatan-Selatan.
Akan tetapi, sangat keliru jika kita hanya memandang warisan ini dengan kacamata nostalgia yang pasif.
Di era belakangan ini, di mana geopolitik global kembali terpecah, dan terjebak dalam fragmentasi kepentingan, Dasasila Bandung sebenarnya adalah modal strategis yang masih sangat bertenaga.
Baca juga: Salah Kaprah Pajak Mobil-Motor Listrik
Dasasila Bandung, pengingat bahwa di tengah ketegangan dunia, prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan antar-bangsa tetap menjadi navigasi yang relevan untuk menata ulang masa depan global.
Oleh karena itu, serangan AS dan Israel terhadap Iran, merupakan cermin kegagalan dunia dalam mewujudkan cita-cita Bandung.
Dari kegagalan ini, kita diingatkan kembali akan urgensi Dasasila Bandung sebagai kompas moral untuk membangun tatanan dunia yang lebih adil, damai, dan beradab.
Pada tataran konteks ini, Indonesia memiliki peran yang strategis untuk mengingatkan kembali prinsip-prinsip Dasasila Bandung bagi pergaulan hubungan internasional.
Pertama, serangan AS dan Israel menegaskan kembali pentingnya posisi Indonesia sebagai negara yang konsisten dengan prinsip non-blok.
Politik luar negeri Indonesia sejak era Sukarno berlandaskan pada “bebas aktif,” yang berarti tidak berpihak pada kekuatan besar, tetapi aktif memperjuangkan perdamaian dunia.
Serangan militer yang dilakukan oleh negara-negara besar menuntut Indonesia untuk menegaskan kembali komitmen ini di forum internasional, seperti PBB dan Gerakan Non-Blok.
Kedua, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi moral voice bagi negara-negara berkembang.
Dengan mengacu pada Dasasila Bandung, Indonesia dapat mengingatkan dunia bahwa kekuatan militer tidak boleh menjadi instrumen utama dalam menyelesaikan konflik.