Singkong Lampung Dibidik Jadi Bahan Baku Bioetanol, Petani Berpeluang Punya Pasar Baru
Provinsi Lampung berpeluang mengembangkan singkong tidak hanya sebagai bahan baku industri tapioka, tetapi juga sebagai sumber energi alternatif

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Provinsi Lampung berpeluang mengembangkan singkong tidak hanya sebagai bahan baku industri tapioka, tetapi juga sebagai sumber energi alternatif melalui produksi bioetanol.
Pengembangan industri ini diharapkan membuka pasar baru, meningkatkan nilai ekonomi singkong, sekaligus memberikan kepastian penyerapan hasil panen petani.
Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik dan Konferensi Daerah (Konferda) Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Lampung di Hotel Horison Lampung, Jumat (6/11/2026).
Forum bertema Dari Lumbung Pangan Menjadi Sumber Energi: Lampung Menjadi Pusat Pengembangan Bioetanol itu membahas potensi singkong dalam mendukung pengembangan energi alternatif nasional.
Lampung memiliki modal produksi yang cukup besar. Produksi singkong di provinsi ini disebut mencapai sekitar 7,5 juta ton dan menempatkannya sebagai salah satu daerah penghasil ubi kayu terbesar di Indonesia.
Potensi tersebut masih dapat ditingkatkan melalui perbaikan produktivitas dan penerapan pola budidaya yang lebih baik.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH) Lampung Tubagus Muhammad Rifki mengatakan, produktivitas singkong saat ini berada di kisaran 33 ton per hektare.
Padahal, penerapan pola budidaya yang lebih baik berpotensi meningkatkan produktivitas hingga 60-70 ton per hektare.
"Selama ini petani kita belum terlalu maksimal dalam membudidayakan singkong. Ubi kayu masih sering dianggap sebagai tanaman sampingan, mungkin karena harganya terkadang turun drastis. Harapannya, dengan adanya industri bioetanol, singkong bisa menjadi komoditas tanaman utama," jelasnya.
Tubagus memperkirakan produksi singkong Lampung dapat mencapai 10 juta hingga 15 juta ton dalam beberapa tahun mendatang apabila produktivitas dan dukungan sarana produksi ditingkatkan.
Pengembangan budidaya diarahkan ke empat daerah sentra singkong, yakni Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Utara, dan Tulang Bawang.
Meski demikian, peningkatan produksi harus dibarengi kesiapan pasar dan industri pengolahan yang mampu menyerap hasil panen petani.
Sebab, peningkatan produksi tanpa kepastian pembeli berpotensi kembali memicu persoalan harga di tingkat petani.
"Pembangunan pertanian tidak bisa berjalan sendiri. Kita butuh investor, pakar, dan pemikir. Setelah produksinya meningkat, kita juga harus memikirkan pasarnya. Hasil panen ini akan diolah menjadi apa? Jika menjadi bioetanol atau untuk kebutuhan industri lain, kita tentu butuh investor yang siap menjadi offtaker hasil pertanian tersebut," paparnya.
Ketua Panitia Pelaksana Diskusi Publik dan Konferda PIKI Lampung Bontor Sitio menilai, industri bioetanol dapat menjadi alternatif pasar sekaligus membantu menjaga stabilitas harga singkong.
Sumber: Tribunlampung.co.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Celios Beberkan Kejanggalan Pertumbuhan Ekonomi Nasional di Kuartal III/2026
Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47% pada Kuartal III/2026 janggal. Ada beberapa indikator yang tidak mencerminkan pertumbuhan...
Berhasil Taklukkan Natuna, Bintan Pastikan Tiket Partai Final Sepak Bola Porprov Kepri VI
Berhasil Taklukkan Natuna, Bintan Pastikan Tiket Partai Final Sepak Bola Porprov Kepri VI Advertorial - Lintaskepricom
Lindungi 90 Ribu Pekerja Rentan, Kutim Masuk 10 Besar Nasional Jamsostek Award 2026
Lindungi 90 Ribu Pekerja Rentan, Kutim Masuk 10 Besar Nasional Jamsostek Award 2026
Media Kaltim Sabet Gold Winner IDMA 2026, Sudah Sejajar Media Nasional
SAMARINDA – Enam tahun membangun perusahaan pers dari Kalimantan Timur (Kaltim), MediaKaltim.com berhasil meraih Gold Winner kategori Konten Berita Aktual Terbaik (The Best News...
