JAKARTA, KOMPAS.com – Di sebuah gang sempit di Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat, sejumlah anak terlihat memainkan kepala ondel-ondel berbahan piper yang warnanya sudah pudar.
Dari kejauhan, alunan musik Betawi terdengar sayup dari sebuah ponsel bersuara lirih. Musik itu akan dipakai untuk mengiringi mereka mengamen di persimpangan jalan.
Anak-anak ini bukan sedang berlatih kesenian. Sebagian besar dari mereka sudah tidak bersekolah. Ondel-ondel kini menjadi alat utama yang digunakan untuk bertahan hidup.
Baca juga: Cerita Firli, Perajin Ondel-ondel yang Bertahan di Tengah Sepinya Pesanan
Fenomena anak putus sekolah yang memilih turun ke jalan dengan membawa boneka ondel-ondel untuk mengamen bukanlah hal baru di Kampung Ondel-ondel, Kramat Pulo.
Namun, belakangan jumlahnya semakin terlihat. Dari pagi hingga sore hari, anak-anak lelaki berusia 10–15 tahun keluar bergantian, menyewa ondel-ondel kecil dari pengrajin lalu berangkat menuju titik-titik keramaian di Jakarta maupun kota-kota penyangga.
KOMPAS.com/Lidia Pratama Febrian Kampung Ondel-ondel di Kramat Pulo, Jakarta Pusat
“Kebanyakan dari mereka putus sekolah, jadi ya kita berdayakan. Daripada mereka keluyuran enggak jelas,” kata Firli (44), salah satu pengrajin ondel-ondel yang masih aktif bertahan di Kampung Ondel-ondel, saat ditemui Kompas.com di rumahnya pada Selasa (2/12/2025).
Firli merupakan generasi penerus dari almarhum ayahnya yang dahulu menjadi salah satu penggerak tradisi ondel-ondel di kawasan tersebut.
Meski masih memproduksi ondel-ondel untuk pesanan acara, penghasilan terbesarnya justru berasal dari menyewakan ondel-ondel kepada anak-anak yang mengamen.
“Sekarang pengrajin tinggal sedikit. Tapi yang ngamen banyak. Jamur lah. Penghasilan dari pesanan enggak tentu, yang pasti malah dari setoran anak-anak itu,” ujarnya.
Ia menyebut, rata-rata setoran hanya Rp 20.000–30.000 per hari. Pada hari hujan atau saat ada patroli ketat, anak-anak bahkan pulang dengan tangan kosong.
Firli mengakui pergeseran fungsi ondel-ondel sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
“Sekarang orang banyak yang enggak paham makna ondel-ondel. Dilihatnya cuma buat cari duit,” ujarnya.
Baca juga: Menara Saidah dan Birokrasi yang Membiarkan Waktu Menggerogoti Dindingnya
Ia sendiri tidak menampik bahwa realitas ekonomi di kampung ini membuat ondel-ondel akhirnya turun ke jalan, tidak lagi sebatas simbol budaya Betawi.
Anak-anak yang putus sekolah menjadi tenaga utama yang memanfaatkan boneka tersebut.
“Negara kita kan belum sejahtera. Pemerintah bikin aturan dilarang ngamen, tapi enggak kasih solusi. Dunia seni Betawi harus dijaga, tapi di sisi lain, orang cari makan pakai apa?” katanya.
Menurut Firli, anak-anak kini memilih mengamen hingga ke luar Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi, hingga Merak.
“Jakarta patroli sering, apalagi ring 1. Banyak yang ditangkap Satpol PP. Jadi mereka cari aman di luar,” kata dia.
Firli sendiri beberapa kali harus mengurus keluarganya yang ditangkap petugas.
“Kemarin sepupu saya ditangkep. Dua hari. Lurah bantu keluarin,” katanya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya menertibkan, tetapi juga memberikan sebuah wadah.
“Kalau mau larang ya boleh, tapi kasih kegiatan seni, atau bantuan untuk UMKM. Kampung ini bisa jadi kampung wisata,” ucapnya.
Fajar (bukan nama sebenarnya), seorang bocah berusia 12 tahun yang bertubuh kurus mengaku sudah tidak bersekolah sejak dua tahun lalu.
Baca juga: Menanti Kepastian Angka UMP Jakarta 2026…
Ia tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai penjaga warung kecil tak jauh dari gang tempatnya bermain.