Tuesday, 3 November 2026

Terkini
Nasional

Pesanan Ekspor Manufaktur RI Melejit, Sinyal Kuatnya Daya Saing Produk Nasional

Pesanan ekspor manufaktur RI tumbuh tercepat sejak 2011. Ekonom UI menilai daya saing produk nasional kian menguat di pasar global

Sumber foto: Warta Ekonomi

Pesanan ekspor baru industri manufaktur Indonesia tumbuh dengan laju tercepat sejak survei S&P Global dimulai pada April 2011. Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fitra Faisal Hastiadi menilai perkembangan tersebut menjadi indikasi menguatnya daya saing produk nasional di pasar internasional.

Lonjakan laju pesanan ekspor itu mengiringi kenaikan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia ke level 54,0 pada Oktober 2026, tertinggi sejak Maret 2024. Menurut Fitra, penguatan manufaktur memiliki fondasi yang baik karena ditopang pertumbuhan permintaan riil.

“Artinya, industri kita tidak sedang memproduksi tanpa arah, melainkan merespons permintaan yang memang tumbuh. Ini penting, karena dalam perspektif ekonomi, produksi yang didorong oleh permintaan riil memiliki fondasi keberlanjutan yang lebih kuat,” ujar Fitra dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Fitra menilai pertumbuhan pesanan ekspor membuka peluang bagi produk manufaktur Indonesia untuk memperluas penetrasi pasar global. Penguatan tersebut juga berpotensi mendorong aktivitas ekonomi di dalam negeri seiring meningkatnya kebutuhan produksi.

Dari sisi penawaran, peningkatan produksi dapat menambah kebutuhan bahan baku, memperluas kegiatan usaha sektor pendukung, serta menciptakan kesempatan kerja baru. Namun, keberlanjutan ekspansi tetap bergantung pada terjaganya permintaan dan kemampuan industri meningkatkan kapasitas produksi.

Penguatan aktivitas manufaktur turut tercermin dalam Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian. Pada Oktober 2026, IKI naik 1,84 poin menjadi 53,77, tertinggi sejak Februari 2026.

Kenaikan itu terutama ditopang Indeks Pesanan Baru yang mencapai 56,08, tertinggi kedua sejak November 2022. Sementara itu, Indeks Produksi naik menjadi 55,38, menunjukkan peningkatan aktivitas produksi sejalan dengan pertumbuhan permintaan.

Menurut Fitra, hubungan antara pertumbuhan pesanan dan peningkatan produksi menjadi indikator penting untuk menilai kualitas ekspansi manufaktur. Industri berpeluang terus berkembang selama permintaan terjaga dan kapasitas produksi dapat ditingkatkan.

Perbaikan aktivitas industri juga terlihat dari luasnya subsektor yang berada di zona ekspansi. Kemenperin mencatat 19 dari 23 subsektor industri mengalami ekspansi pada Oktober 2026.

Subsektor tersebut mewakili 94,4 persen produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada triwulan II 2026. Pada saat yang sama, proporsi pelaku usaha yang melaporkan penurunan kegiatan usaha menyusut menjadi 19,5 persen, terendah sejak November 2022.

Fitra menilai kondisi tersebut menjadi modal penting untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2026. Manufaktur memiliki keterkaitan dengan berbagai kegiatan ekonomi, mulai dari penyediaan bahan baku, logistik, dan perdagangan hingga penyerapan tenaga kerja.

Untuk menjaga momentum tersebut, Kemenperin menekankan perlunya penguatan kapasitas produksi, peningkatan produktivitas, dan daya saing produk nasional. Upaya itu mencakup penyediaan bahan baku yang kompetitif, penguatan rantai pasok, serta perluasan akses pasar ekspor.

Sumber: Warta Ekonomi. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *