REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dana masyarakat di pasar modal mulai diarahkan untuk menopang pembiayaan pembangunan nasional. Dalam lima tahun ke depan, kontribusinya ditargetkan sekitar Rp 1.812,55 triliun. Angka itu menjadi bagian dari kebutuhan investasi nasional periode 2025–2029 yang diperkirakan mencapai Rp 47.573,45 triliun. Di tengah keterbatasan pendanaan pemerintah, pasar modal didorong mengambil porsi lebih besar.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi mengatakan, peran tersebut menjadi penting sebagai alternatif pembiayaan di luar APBN.
“Tentu di tengah keterbatasan kapasitas utama pendanaan dari APBN, maka pasar modal, termasuk melalui instrumen saham, obligasi, dan lain-lain, diharapkan turut berkontribusi. Target kontribusinya berada di kisaran 3,81 persen atau setara dengan sekitar Rp 1.812 triliun,” ujar Hasan dalam peluncuran program Pintar Reksa Dana dan Pekan Reksa Dana 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin (27/4/2026).
Menurut dia, dana tersebut pada dasarnya berasal dari masyarakat yang berinvestasi di berbagai instrumen pasar modal. Karena itu, perluasan jumlah investor menjadi kunci.
Per 24 April 2026, jumlah investor pasar modal tercatat mencapai 26,12 juta. Mayoritas masuk melalui reksa dana.
“Mayoritas investor memulai melalui produk dan layanan reksa dana, yang menjadi pintu masuk utama bagi investor pemula,” kata Hasan.
Dominasi investor muda juga semakin terlihat. Sebanyak 54,71 persen investor berusia di bawah 30 tahun. Kondisi ini dinilai menjadi peluang sekaligus tantangan untuk meningkatkan literasi.
Seiring itu, kinerja industri juga tumbuh. Nilai aset bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp 710,29 triliun atau naik 5,18 persen secara year to date.
Ketua Presidium Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Lolita Liliana menyebut, minat masyarakat terhadap investasi terus meningkat, meski ruang pertumbuhan masih terbuka lebar.
“Jumlah investor sekitar 26 juta, itu masih sekitar 8 persen dari jumlah penduduk. Jadi tentu saja masih ada tantangan dan juga peluang,” ujar Lolita.
Ia menambahkan, jumlah produk reksa dana kini telah melampaui 2.000 dengan dana kelolaan lebih dari Rp 700 triliun. Jika digabungkan dengan kontrak pengelolaan dana, totalnya telah menembus Rp 1.000 triliun.
Untuk mendorong partisipasi, OJK bersama pelaku industri meluncurkan program “Pintar Reksa Dana”. Program ini mengajak masyarakat berinvestasi secara rutin dan terencana.
Upaya tersebut diharapkan tak hanya menambah jumlah investor, tetapi juga membentuk kebiasaan investasi yang lebih disiplin. Dengan basis investor yang terus tumbuh, pasar modal diharapkan tak sekadar menjadi tempat berinvestasi, tetapi juga menjadi saluran bagi masyarakat untuk ikut membiayai pembangunan.