Laga Terakhir FIFA ASEAN Cup 2026, Mengajarkan Kita tentang Kebijaksanaan Halaman 1
Wahai netizen Indonesia, jangan-jangan kita juga curang loh!

Tidak ada jantung yang benar-benar aman dari degup kencang di laga terakhir FIFA ASEAN Cup 2026 Grup A. Dua pertandingan dihujani dengan gol. Di Jakarta, Indonesia menggulung Bangladesh dengan skor 9-2, sedangkan di Bandung, Malaysia mengalahkan Singapura dengan skor telak, 6-0. Kedua-dua tim memiliki kemungkinan lolos yang sama, poin yang sama, dan harus bertanding selisih gol untuk memastikan diri lolos ke final sebagai peringkat pertama.
Sepanjang babak normal, kedua tim seolah saling berkejaran mencetak gol demi gol. Tensi panas semakin memuncak dikala Malaysia berhasil mencetak gol keenam mereka menjelang babak tambahan sementara Indonesia sendiri kebobolan dari Bangladesh. Hal ini menyebabkan Indonesia tersudut, nyaris memupuskan harapan seluruh fans sepak bola tanah air. Mengutip pengalaman pribadi, penulis sendiri sudah mematikan televisi saat skor masih menunjukkan angka 7-2.
Tapi ternyata yang terjadi di Injury Time jauh lebih gila.
Pada akhirnya Indonesia yang lolos ke final dengan skor akhir 9-2 (penulis tidak banyak berkomentar karena tidak nonton, perkara TV tadi). Namun, meski permainan di atas lapangan telah berakhir, pembicaraan mengenai laga tersebut tidak habis-habis. Beberapa adalah ulasan euforia, tapi ada beberapa lainnya yang bernada "tudingan". Ini yang menarik.
Laga Malaysia vs Singapura yang berkesudahan 6-0, dinilai mencurigakan oleh sejumlah pengamat sepakbola amatir. Banyak yang menyoroti, bagaimana mungkin, Singapura, negara dengan peringkat 148 FIFA bisa dihancurkan dengan skor setelak itu. Bangladesh saja Cuma kena 3-0 dengan Malaysia. Malaysia loh ini, bukan Prancis. Ada tudingan tentang lini belakang Singapura yang sangat rapuh, lini depan yang malas dan terkesan tak niat main. Bermacam-macam. Tudingan itu mengarahkan opini pada istilah "Sepak bola gajah" yang dulu marak terjadi di ASEAN.
Bau-bau keanehan di laga tersebut, juga bahkan turut dikomentari oleh Joh Herdman dalam wawancaranya sebagaimana disiarkan Sport Kompas. Skornya aneh, biasanya hanya 1-1, 2-1 atau paling telak 4-1. Saya terkejut. Begitu pungkas Herdman. Sekjen PSSI, Yunus Nusi juga berkomentar searah dengan Herdman, dia mengaku terkejut dengan skor tersebut, meski sekali lagi, hanya dugaan. Sulit bagi kita untuk menerjemahkannya ke bahasa teknis, ada bau, tapi tidak kelihatan.
Betul juga Pak Yunus ini. Bau memang tidak kelihatan. Apalagi bau kentut. Kentut yang tidak berbunyi tapi berbau, itu adalah kentut paling mematikan, dan jika pelakunya berbohong, semoga dia dapat ganjarannya.
Menariknya, jika kita mau meluangkan sedikit waktu untuk menengok narasi-narasi yang muncul di kalangan fans Malaysia, kita justru akan menemukan hal sebaliknya. Mereka justru menuding Indonesia, yang bermain sepak bola gajah. Betul juga, sebenarnya tidak hanya mereka yang berkepentingan dan butuh banyak gol, kita juga. Dan berhasil mencetak 9 gol, dari POV mereka, itu jauh lebih sulit lagi, ketimbang hanya mencetak 6 gol.
Coba diingat-ingat lagi, kapan terakhir ada tim yang bisa menang 9 gol dalam sebuah pertandingan? Sangat-sangat jarang bukan?
Netizen Malaysia menyoroti bagaimana tambahan waktu yang diberikan official pertandingan tiba-tiba diubah. Awalnya tambahan waktu babak kedua di laga Indonesia vs Bangladesh itu hanya 2 menit, dan posisinya saat itu Indonesia sedang tertinggal selisih gol dari Malaysia. Tiba-tiba tambahan waktunya berubah menjadi 7 dan Indonesia mencetak dua gol di masa-masa itu.
Apalagi Indonesia adalah negara tuan rumah, terus ketua PSSI-nya dekat dengan presiden FIFA. Tidak hanya ketua PSSI, Menpora-nya juga dekat.
Kalau kita merenunginya, situasi ini sangat unik. Suporter Indonesia dan Malaysia bisa saling klaim kecurangan. Petunjuk-petunjuk untuk membenarkan klaim itu juga terasa masuk akal. Kita tidak sedang dalam posisi yang menang merayakan yang kalah menjelaskan. Kedua-dua pihak sekarang, hendak menjelaskan. Kalau kita renungi juga klaim-klaim balasan dari publik Malaysia itu, seyogyanya bikin kita sedikit rendah hati.
Kita tidak putih-putih banget loh di mata mereka. Kita juga punya potensi berbuat salah dan curang. Jadi kita juga tidak sebaiknya asal menuduh mereka. Karena biasanya dalam sebuah acara penghakiman, orang yang paling lantang berteriak "pencuri", bisa jadi dia adalah pencuri itu sendiri.
Kita memang tidak bisa membuktikan semua klaim. Namun, setelah memiliki "kebijaksanaan" dalam hati, kita bisa melihat batas-batasnya. Apa yang benar-benar merupakan fakta, dan apa yang merupakan opini. Laga Malaysia vs Singapura memang tidak berimbang. Pelatih Singapura, Gavin Lee secara khusus mengatakan, timnya sudah bermain cukup baik, tapi mereka gagal membendung serangan Malaysia yang dilandasi motivasi untuk lolos ke final. Apa salahnya mereka bersemangat bukan? Selain itu, jika mencermati pertandingannya, katanya, Singapura memang tidak bisa memaksimalkan peluang yang didapat. (Katanya, penulis tidak menonton pertandingannya, masih perkara TV tadi).
Sumber: Kompasiana.com. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Cek Syarat, Jadwal, dan Cara Pendaftaran Mendapatkan Beasiswa Cendekia BAZNAS 2026
Cek Syarat, Jadwal, dan Cara Pendaftaran Mendapatkan Beasiswa Cendekia BAZNAS 2026
Super League -Persebaya bermain imbang 1-1 lawan Persijap
Pesepakbola Persebaya Surabaya Miguel Pereira (kiri) dihadang oleh pemain Persijap Jepara Zidane Pramudya (kedua kiri) saat laga pekan kedelapan BRI Super ...
Carrick Tegaskan Manchester United Haus Kemenangan jelang Hadapi Chelsea
Pelatih Manchester United Michael Carrick menegaskan timnya haus kemenangan menjelang lawatan ke markas Chelsea, Sabtu, 31 Oktober 2026 malam WIB. Setan Merah membutuhkan hasil...
Sundulan Mitrevski Selamatkan Persebaya dari Kekalahan
Risto Mitrevski menyelamatkan Persebaya dari kekalahan saat menghadapi Persijap Jepara. Laga pekan kedelapan Super League berakhir imbang 1-1.
