Konflik AS-Iran Picu Lonjakan Permintaan Mobil Listrik Bekas di Jerman

Mobil BMW The IX, mobil listrik produksi pabrikan asal Jerman (ilustrasi). Hampir 120 ribu mobil listrik bekas terjual selama empat bulan pertama tahun ini di Jerman.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lonjakan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah mulai mengubah pola konsumsi masyarakat Jerman. Salah satu dampaknya terlihat dari meningkatnya permintaan kendaraan listrik bekas yang melonjak tajam sepanjang awal 2026.
Majalah Der Spiegel, mengutip data Otoritas Transportasi Motor Federal Jerman (KBA), melaporkan hampir 120 ribu mobil listrik bekas terjual selama empat bulan pertama tahun ini. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025 dan hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan empat bulan pertama 2024.
Peningkatan itu menunjukkan semakin banyak konsumen Jerman yang melirik kendaraan listrik sebagai alternatif di tengah membengkaknya biaya transportasi. Mobil listrik bekas dinilai menawarkan harga yang lebih terjangkau dibandingkan unit baru, sekaligus memberikan efisiensi operasional yang lebih baik saat harga bahan bakar fosil terus naik.
Laporan tersebut juga mengutip kajian International Council on Clean Transportation (ICCT) yang menunjukkan pangsa mobil listrik dalam pasar kendaraan bekas Jerman meningkat signifikan. Jika pada April 2025 hanya sekitar tiga persen dari total mobil bekas yang terdaftar merupakan kendaraan listrik, setahun kemudian angkanya melonjak menjadi 7,7 persen.
Kenaikan permintaan itu semakin terlihat setelah pecahnya konflik di Timur Tengah yang memicu gangguan pasokan energi global. Ketidakpastian di kawasan tersebut membuat harga minyak dunia melonjak dan berdampak langsung pada biaya bahan bakar di berbagai negara, termasuk Jerman.
Situasi memburuk setelah eskalasi konflik yang melibatkan Iran menyebabkan gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting bagi ekspor minyak dan gas alam cair dunia. Hambatan pada jalur strategis tersebut ikut menekan pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga berbagai komoditas industri.
Di tengah kondisi tersebut, kendaraan listrik semakin dipandang sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak. Tren meningkatnya penjualan mobil listrik bekas di Jerman juga menjadi sinyal bahwa pasar kendaraan listrik tidak hanya tumbuh di segmen kendaraan baru, tetapi mulai menguat di pasar sekunder seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap efisiensi biaya dan keberlanjutan lingkungan.
sumber : Antara
Artikel terkait
Berita terbaru
JEC Dorong Pemeriksaan Mata untuk Tingkatkan Performa Pesepakbola
JEC menyoroti pentingnya kesehatan mata, dominansi silang, dan kemampuan membaca permainan untuk mendukung performa pesepakbola sejak usia dini.
Takluk dari Kendal Tornado FC, Coach Tavares Ambil Tanggung Jawab
Kekalahan yang menyakitkan harus diterima Persebaya saat mengawali kiprahnya di Grup G I.League Cup 2026/27. Di tengah hasil minor tersebut, Bernardo Tavares memilih mengambil...
Berpakaian Adat Khas Melayu, Kepala MAN 3 Bungo H. Haidir Hadiri Agenda Nasional di Masjid Istiqlal Jakarta
Jakarta — Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Bungo, H. Haidir, menghadiri rangkaian agenda kunjungan dan kegiatan formal tingkat nasional yang dipusatkan di Masjid...
Profil Jesus de Miguel, Jejak Karier Penyerang CD Tenerife yang Meninggal Dunia
Profil dan perjalanan karier Jesús de Miguel Alameda, penyerang CD Tenerife yang meninggal dunia pada usia 30 tahun.
