Ketika AI Datang, Siapa yang Harus Berubah


Oleh: Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bill Gates pernah mengatakan sesuatu yang membuat banyak pendidik gelisah. Dalam sebuah wawancara pada Maret 2025, pendiri Microsoft itu memprediksi bahwa dalam sepuluh tahun ke depan, kecerdasan buatan akan mampu melakukan banyak tugas yang selama ini dikerjakan manusia, termasuk tugas dokter dan guru. Gates bahkan menyebut bahwa nasihat medis yang hebat dan bimbingan belajar yang hebat akan menjadi hal yang umum dan gratis.
Prof. Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, mengutip prediksi itu dalam kuliah umum di UPN “Veteran” Yogyakarta pada 10 September 2026. “Bahkan Bill Gates mengatakan, 10 tahun lagi guru-guru bisa digantikan AI. Pertanyaannya, bagaimana transformasi kita?” ujar Arif. Ia lalu menambahkan kalimat yang layak direnungkan: “Guru yang bisa digantikan AI adalah guru yang biasa. Dosen yang bisa digantikan AI adalah dosen biasa. Dosen yang biasa hanya bisa menyampaikan, dosen yang baik bisa menjelaskan, tetapi dosen yang hebat bisa menginspirasi.”
Dua pernyataan itu, jika dibaca sekilas, seolah berbicara tentang masa depan guru. Padahal tidak. Keduanya sebenarnya berbicara tentang masa depan manajemen sumber daya manusia pendidikan.
Dalam artikel, “Ketika Algoritma Menggantikan Guru,” kami mencoba memetakan sepuluh tantangan etis yang mengintai integrasi AI di lembaga pendidikan Islam. Beberapa artikel yang dipublish di tahun 2023–2026 menemukan bahwa kurang dari 10 persen madrasah telah menetapkan protokol etis untuk pembelajaran digital, dan infrastruktur pendukung AI hanya tersedia di 17,4 persen madrasah. Angka-angka itu menunjukkan bahwa kita sedang memasuki era AI dengan persiapan yang amat minim.
Tetapi ada satu pertanyaan yang belum terjawab tuntas dalam tulisan itu: apa yang harus dilakukan oleh manajemen pendidikan Islam? Bukan oleh guru secara individual, bukan oleh kiai di pesantren, tetapi oleh mereka yang mengelola manusia di dalam lembaga pendidikan. Di sinilah isu sumber daya manusia menjadi krusial.
Kesiapan yang Tidak Seimbang
Pada tahun 2025, Badan Riset dan Inovasi Nasional melakukan Evaluasi Kompetensi Literasi Digital Guru Madrasah. Temuannya menarik: secara umum, guru madrasah menunjukkan sikap positif dan keterbukaan yang tinggi terhadap teknologi, termasuk AI. Mereka tidak menolak. Mereka tidak curiga. Mereka ingin belajar.
Tetapi keterbukaan psikologis tidak sama dengan kesiapan kompetensi. Ada ketidakseimbangan mendasar yang terungkap dari evaluasi itu.
Bisa kita bayangkan Bersama Ketika seorang guru madrasah di pelosok negeri. Ia tahu AI itu penting. Ia melihat murid-muridnya bertanya pada ChatGPT. Ia ingin ikut menggunakan. Tetapi ia tidak pernah dilatih. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Ia tidak tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ia hanya tahu bahwa sesuatu sedang berubah, dan ia tidak disertakan dalam perubahan itu.
Data dari berbagai survei memperkuat gambaran ini. Sebuah studi menemukan bahwa integrasi AI di pendidikan Islam masih terbatas oleh kendala teknis dan infrastruktur, dan bahwa integrasi AI menuntut pelatihan guru berkelanjutan serta pengembangan kurikulum yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Studi lain menunjukkan bahwa keterlibatan komunitas, pelatihan informal lintas generasi, dan kepemimpinan adaptif mampu menjembatani kesiapan guru dan kesenjangan pelatihan.
Namun, studi demi studi menegaskan hal yang sama: kesenjangan pelatihan adalah hambatan utama. Survei yang dikutip dari Kemendikbud (2025) mengungkapkan bahwa 70 persen guru SD di daerah tertinggal belum pernah mengikuti pelatihan coding atau AI, dan hanya 15 persen yang merasa percaya diri untuk mengajarkannya. Indeks Literasi Digital Indonesia bahkan hanya mencapai 3,54 dari skala 5, yang tergolong kategori “sedang.”
Jika angka-angka itu diproyeksikan ke madrasah, gambarnya tidak jauh berbeda. Bahkan mungkin lebih rumit, karena madrasah menghadapi tantangan tambahan: menjaga kedalaman konten keagamaan dan etika Islam yang bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan adaptasi kurikulum.
Disclaimer:
Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Artikel terkait
Berita terbaru
Dirikan Klub Sepak Bola Amputasi PERSAS, Khusnul Yakin Wisuda di Umsura dan Raih Beasiswa S2 Hukum
Perjalanan Khusnul Yakin menuju panggung wisuda Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) bukanlah perjalanan yang mudah. Terlahir sebagai penyandang disabilitas tunadaksa
Deteksi Dini TBC di Permukiman Lampung Masih Lemah
Upaya menemukan penderita tuberkulosis (TBC) sejak dini masih menjadi tantangan dalam penanganan penyakit tersebut.
Bukan Kehabisan Talenta, Ini Alasan PSSI Alihkan Perburuan Pemain Keturunan dari Belanda
PSSI dikabarkan tak lagi prioritaskan pemain keturunan Belanda untuk Timnas Indonesia. Regulasi non-EU dan KNVB menjadi pertimbangan dalam perubahan arah.
Derby della Madonnina: AC Milan Hajar Inter 3-1, Pulisic dan Moreira Bersinar
EKSPOSKALTIM, Milan - AC Milan keluar sebagai pemenang dalam Derby della Madonnina pertama musim 2026/27 setelah menghajar Inter Milan 3-1 di Stadion ...
