Sunday, 1 November 2026

Terkini
Lampung

ISPA di Tanggamus Naik di Tengah Erupsi Anak Krakatau

ISPA di Tanggamus Naik di Tengah Erupsi Anak Krakatau

Liputan6.com, Jakarta – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Tanggamus, Lampung, melonjak di tengah sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Dalam sehari, jumlah kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan meningkat lebih dari tiga kali lipat.

Pemerintah Provinsi Lampung juga mengungkap hasil pemeriksaan sampel abu vulkanik yang menunjukkan adanya partikel berukuran sekitar 5 hingga 10 mikrometer dengan permukaan tidak beraturan dan cenderung tajam.

Partikel tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata, hingga kulit apabila masyarakat terpapar.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan, berdasarkan laporan sementara, terjadi peningkatan signifikan jumlah masyarakat yang mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Tanggamus.

Pada 5 September 2026, tercatat sebanyak 52 kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan, dengan 46 orang mengalami ISPA. Sehari kemudian, jumlah kunjungan melonjak menjadi 158 orang, sementara kasus ISPA meningkat menjadi 76 kasus.

Artinya, dalam sehari jumlah kunjungan ke fasilitas kesehatan bertambah 106 kunjungan, sedangkan kasus ISPA meningkat 30 kasus.

“Ini menunjukkan adanya tren kenaikan yang cukup signifikan di Kabupaten Tanggamus. Untuk daerah lainnya sedang terus kami himpun datanya,” kata Jihan saat jumpa pers terkait Gunung Anak Krakatau di Bandar Lampung, Selasa (8/9/2026).

Puskesmas dan Rumah Sakit Diminta Siaga

Lonjakan kasus tersebut menjadi perhatian Pemprov Lampung. Paparan abu vulkanik yang terhirup dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.

Jihan mengatakan, pemerintah telah menginstruksikan seluruh puskesmas dan rumah sakit untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama fasilitas kesehatan di wilayah yang lebih dekat dengan Gunung Anak Krakatau maupun daerah yang terdampak sebaran abu vulkanik.

“Kami meminta kesiapsiagaan penuh dari tenaga kesehatan, ketersediaan obat-obatan, bahan medis habis pakai, stok oksigen, hingga sistem rujukan medis yang harus selalu siap digunakan apabila diperlukan,” jelasnya.

Jihan mengatakan langkah tersebut dilakukan sebagai antisipasi apabila terjadi peningkatan jumlah masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *