Tuesday, 3 November 2026

Terkini
Bola

Genaro Gattuso Tak Ingin Lazio Pusing di Puncak dan Fokus Kejar Target Halaman 1

Lazio sementara berada di puncak klasemen Serie A Liga Italia musim 2026/27. Apa reaksi Gennaro Gattuso?

Sumber foto: Kompasiana.com

Lazio mencuri sensasi di Serie A Liga Italia musim 2026/27 ini. Hingga memasuki pekan ke-10 lanjutan Liga Italia musim 2026/27, tim yang bermarkas di ibukota Italia itu kokoh berada di puncak klasemen sementara. Beda tiga poin dengan Inter Milan yang ditundukkan oleh rival sekota, AC Milan akhir pekan lalu.

Kemenangan kontra Cagliari (2-1) memantapkan posisi Lazio di puncak klasemen. Lewat kemenangan itu, Lazio juga tak menyia-nyiakan momentum kekalahan Inter dan peluang untuk memantapkan posisi di puncak klasemen.

Terakhir kali Lazio yang berjuluk Biancocelesti duduk di puncak klasemen setelah 10 laga di Liga Italia terjadi pada musim 2010/11. Sudah hampir satu dekade lebih. Lazio juga mencatat 6 kemenangan sempurna dari 6 laga terakhir.

Kontra Cagliari, Lazio berhasil "comeback" setelah gol Cagliari lewat M'Bala Nzola pada menit ke-10. Lazio menyamakan kedudukan kedudukan pada menit ke-36 dan memastikan kemenangan pada menit ke-83. Dua gol itu membuat Lazio mencatatkan 24 gol pada musim ini. Rata-rata dua gol per laga.

Menyikapi raihan itu, Gennaro Gattuso yang berlaku sebagai pelatih Lazio tak mau jumawah dan tinggi hati. Musim kompetesi masih panjang. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Malahan, pelatih asal Italia itu menyadari kekuatan yang dimiliki oleh tim-tim lainnya di Liga Italia.

"Setiap tim di liga seimbang dan terstruktur dengan baik, jadi kami harus fokus setiap satu laga dan melihat di mana kami mengakhirinya. Hal yang terbaik adalah kami tak melihat pada klasemen saat ini, atau itu akan membuat kami pusing. Kami harus bekerja keras, beristirahat dan kemudian bekerja keras lagi," ungkap Gattuso sebagaimana terlansir dalam Goal.com (1 November 2026).

Ungkapan Gattuso itu beralasan. Persaingan di klasemen lagi ketat. Inter yang mengakhiri tren positifnya belum terkalahkan masih perlu mendapatkan posisi terdepan sebagai kandidat juara untuk musim ini.

Selain Inter, Lazio juga perlu mempertimbangkan rival sekotanya, AS Roma. Roma yang bangkit berkat sentuhan pelatih senior Gian Piero Gasperini sejak musim lalu juga telah menjadi salah satu tim yang solid di Liga Italia musim ini. Jadi, dengan kebangkitan dua tim asal Ibukota Italia tersebut, peluang Scudetto kembali ke ibukota terbuka lebar.

Belum lagi dengan mental pantang mundur ala Como. Como harus diakui sebagai "kuda hitam" yang bisa mengganggu persaingan di empat besar Liga Italia musim ini. Pedek kata, keberadaan Lazio di puncak klasemen sementara musim ini belum berada pada titik aman.

Lebih jauh, sejak Gattuso mengambil peran sebagai pelatih di awal musim ini, Lazio mempunyai target berbeda. Salah satu target yang ditetapkan Gattuso pada Lazio musim ini adalah berhasil mengumpulkan 40 poin.

Kalau dihitung-hitung, Lazio masih mempunyai utang 12 poin untuk bisa mencapai target tersebut. Empat kemenangan lagi.

Penetapan target itu tak lepas dari kondisi intern klub. Gattuso tiba di Lazio tanpa dukungan kuat manajemen klub dalam pembelian pemain. Jadi, Gattuso bersikap realistis seturut kondisi klub.

Tak elak, suporter Lazio sempat melakukan protes pada manajemen klub atas kebijakan dan kondisi keuangan klub dengan tidak datang menyaksikan laga yang dimainkan Lazio.

Makanya, Gattuso sempat berkomentar jika protes suporter Lazio yang tak datang ke Stadion Olimpico mengingatkannya laga-laga yang terjadi di masa Covid. Saat itu, stadion tak boleh dihadiri oleh penonton lantaran aturan yang diterapkan. Situasi yang persis sama terjadi saat suporter Lazio melakukan aksi protes kepada manajemen klub dengan tidak datang nonton laga yang dimainkan oleh Lazio

Gattuso yang berhasil membawa Lazio sebagai tim solid di Liga Italia pada musim ini juga lebih menilai sisi kekalahan sebagai momen pembelajaran, daripada fokus pada deretan kemenangan. Kesadaran itu bisa berdasar pada kondisi skuad, yang bisa sewaktu-waktu tergerus oleh kelelahan dan tuntutan kompetesi.

Sumber: Kompasiana.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *