Saturday, 31 October 2026

Terkini
Bola

Dua Ingatan Setelah Indonesia Menjuarai FIFA Asean Cup 2026 Halaman 1

Sengaja saya tak mau move on dari euforia menjadi King of ASEAN. Demi apa? Demi menghindari kabar-kabar politik.

Sumber foto: Kompasiana.com

Faktanya, saya memang sengaja tidak mau melepas euforia ini dengan satu alasan …

Sampai hari ini terusterang saya belum mau terlepas dari euforia kemenangan Timnas Garuda dalam FIFA Asean Cup 2026 tanggal 5 Oktober lalu. Masih kerap menonton ulang adegan detik-detik Emil Audero menggagalkan tendangan penalti pemain Thailand.

Pun, saya belum lupa betapa bijak ucapan Pak Edy Mulyadi (ayah kandung Emil Audero) tatkala diwawancarai usai adu penalti itu. Beliau amat bangga sebab sang buah hati bisa menjadi penentu kemenangan Indonesia, tetapi sama sekali tak ada kesan songong seperti ucapan viralnya dahoeloe. Sebelum Emil memutuskan jadi WNI.

Anda penggemar sepakbola pasti tahu ucapan ikonik "ngimpiiii" yang dilontarkan Pak Edy Mulyadi. Yang dulu itu viral sehingga sukses membuat beliau dihujat warganet se-Indonesia raya. Haha!

Adegan ketika Shayne Pattynama mulai melangkah menuju bola di titik putih pun, masih menempel erat di benak ini. Semula agak kaget mengapa penendang keempat dia. Namun dalam satu tarikan napas, seketika saya menjadi sangat percaya kalau Shayne bakalan mampu mengeksekusi dengan baik.

Dia tipe pemain tanpa drama. Jadi cadangan melulu enggak baper. Begitu diberi tanggung jawab untuk main, bisa langsung siap dengan percaya diri.

Tatkala itu saya langsung berpikir bahwa dia wajib sukses bikin gol. Bahaya kalau sampai gagal. Saya pun sungguh-sungguh berdoa untuknya. Syukurlah tendangan penaltinya membuat bola masuk gawang dengan meyakinkan.

Ternyata sesayang itu saya kepada Shayne. Mungkin sebab saya suka melihatnya selalu terdepan, manakala Timnas Garuda dalam mode tawuran saat pertandingan. Haha!

Namun kalau boleh jujur, dua hal berikut yang sebetulnya bikin saya menaruh perhatian khusus kepada Shayne Pattynama.

Pertama, mengenai kegalauannya terkait darah Indonesia yang dia miliki. Dalam sebuah wawancara dia pernah mengatakan, "Saya orang Indonesia. Papa saya dari Indonesia dan saya dibesarkan dalam budaya Indonesia. Keluarga memasak makanan Indonesia. Saya hanya tidak tahu bahasanya."

Rupanya itu kegalauan yang jamak terjadi pada anak berdarah campuran. Saya baru menyadarinya saat membaca komentar-komentar atas video wawancara tersebut. Tentu yang berkomentar para diaspora dan orang tua dari anak diaspora.

Di situlah saya kemudian menyadari, betapa bangor warganet tetangga sebelah yang mengolok Timnas Garuda sebagai Timnas Belanda C. Dari POV Shayne dan para pemain diaspora lainnya, olokan itu pastilah menyakitkan hati. Adapun bagi suporter militan Timnas Garuda, olokan itu sungguh bikin kesal.

Kedua, karena dia membaca buku. Sebab saya terobsesi untuk menjadi orang berwawasan luas, saya berjuang untuk rajin baca buku. Eh, ternyata Shayne juga begitu. Wajar 'kan kalau saya merasa bestie dengannya?

Dari mana saya tahu? Dari salah satu IGs-nya, dong. Waktu itu dia yang tengah liburan mengunggah foto minuman dan camilan. Nah. Di meja yang sama terlihat sebuah buku dalam posisi sedang proses dibaca.

Itulah ingatan saya tentang Emil Audero Mulyadi dan Shayne Pattynama. Dua diaspora yang menjadi penggawa Timnas Garuda, yang tempo hari sama-sama berjuang untuk menjadikan Indonesia sebagai juara baru sepakbola se-Asia Tenggara.

Sumber: Kompasiana.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *