Deplu AS Tepis Isu Evakuasi Massal di Teluk, Hanya Berlaku di Arab Saudi
Deplu AS membantah isu evakuasi massal staf diplomatik di kawasan Teluk dan menegaskan perintah keberangkatan hanya berlaku untuk kawasan Arab Saudi.

Jakarta, MINA – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) membantah laporan yang menyebut Washington bersiap memerintahkan staf dan keluarga diplomatnya meninggalkan kedutaan besar di seluruh kawasan Teluk. Pihak kementerian menegaskan kebijakan keberangkatan tersebut hanya berlaku di Arab Saudi.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, melalui akun X pada Kamis (22/10) menyatakan informasi yang beredar tidak akurat, sebagaimana dikutip Anadolu.
Ia menjelaskan, perintah keberangkatan hanya diberlakukan bagi pegawai pemerintah AS yang tidak mendesak beserta anggota keluarganya di Arab Saudi.
Pigott mengaitkan kebijakan itu dengan tindakan permusuhan kelompok Houthi asal Yaman terhadap Arab Saudi, termasuk serangan ke bandara sipil dan infrastruktur penting yang menimbulkan korban sipil dan gangguan perjalanan. Ia menambahkan, keselamatan personel dan keluarga mereka tetap menjadi prioritas.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Rabu (21/10) mengaku tidak mengetahui adanya laporan tentang perintah bagi personel kedutaan untuk meninggalkan pos mereka di Timur Tengah. Menurut Trump, informasi itu baru ia dengar dari wartawan yang bertanya kepadanya.
Sebelumnya, Kedutaan Besar AS di Arab Saudi mengingatkan warganya bahwa situasi keamanan berpotensi memburuk dengan cepat hingga melampaui wilayah yang terdampak langsung.
Kedutaan juga mewajibkan pegawai pemerintah AS mengantongi izin khusus dari kepala perwakilan untuk menggunakan bandara mana pun di Arab Saudi.
Operasional Bandara Internasional King Khalid di Riyadh masih ditangguhkan, sedangkan Bandara King Abdulaziz di Jeddah dan King Fahd di Dammam tetap beroperasi dengan sejumlah penundaan dan pembatalan penerbangan.
Peringatan itu muncul setelah rangkaian serangan Houthi ke Arab Saudi. Pada 10 Oktober, serangan ketiga dalam sepekan ke Bandara King Khalid dilaporkan menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
Trump saat itu menyatakan AS akan mempertimbangkan bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap Houthi. Houthi juga dilaporkan mengancam akan menyasar infrastruktur energi Saudi, termasuk fasilitas Saudi Aramco. []
Sumber: Minanews.net. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Kehebohan Tim Cheering Bakar Semangat Peserta Jakarta Running Festival 2026
Liputan6.com, Jakarta – Suasana myBCA Jakarta Running Festival 2026 tak hanya diramaikan oleh para pelari yang berjuang mencapai garis finis. Di sepanjang rute, para...
Intip Koper Traveling Berdesain Sporty ala Mobil Sport, Fungsional untuk Berbagai Perjalanan
Liputan6.com, Jakarta – Saat bepergian, koper tak hanya berfungsi untuk menyimpan barang, tapi juga menunjang kenyamanan dan gaya selama perjalanan. Kapasitas, material, dan desain...
Moto3 Australia 2026 Batal Digelar karena Cuaca Buruk, Veda Ega Pratama Ungkap Kesedihan Usai Pole
Perbesar Veda Ega Pratama pada tes pramusim Moto3 2026 di Sirkuit Jerez. (Honda Team Asia) Liputan6.com, Victoria – Veda Ega Pratama tak bisa tampil...
Hadiri Rakornas ICCN 2026, Papua Tengah Perkenalkan TIFA ke Panggung Nasional
Koordinator Daerah (Korda) Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Papua Tengah memanfaatkan momentum Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ICCN 2026 untuk memperkenalkan potensi ekonomi kreatif Tanah...
