Cara Pengusaha Kopi Menjaga Kualitas Seduhan Saat Iklim Mulai Tak Bisa Diprediksi

Petani kopi mengupas kulit biji kopi puntang jenis arabika usai dipanen di Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/8/2024). Masyarakat peduli alam puntang yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) membudidayakan tanaman kopi sebagai sumber utama penghasilan warga di sekitar Gunung Puntang. Pengembangan usaha tersebut dilakukan dengan melakukan pelatihan dasar budidaya kopi organik bagi petani, pelatihan barista, pengembangan kawasan menjadi eduwisata kopi puntang dibawah binaan PT Pertamina Hulu Energi. Produk kopi puntang tersebut berhasil didistribusikan kesejumlah daerah di Indonesia hingga menembus pasar internasional seperti ke wilayah Eropa.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perubahan iklim tidak lagi menjadi isu masa depan, tetapi realitas yang langsung memengaruhi kebijakan, ekonomi, hingga praktik di lapangan. Dari ruang akademik hingga sektor industri, berbagai pihak mulai menyesuaikan strategi untuk menghadapi dinamika cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat respons berbasis sains. Di sisi lain, pelaku industri juga dituntut adaptif agar tetap mampu menjaga kinerja di tengah tekanan iklim yang meningkat.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkuat kerja sama dalam membangun ketahanan iklim berbasis riset. Ketua Pusat Studi Perubahan Iklim Unhas Rijal M Idrus menegaskan pentingnya edukasi berbasis bukti ilmiah yang dapat diakses luas oleh masyarakat.
“Integrasi program ke dalam skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik juga menjadi salah satu strategi kunci,” ujarnya, seraya menekankan peran mahasiswa sebagai agen perubahan di tingkat lokal.
Direktur Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim KLH Irawan Asaad menambahkan, ketersediaan data terintegrasi menjadi fondasi penting dalam pengambilan kebijakan. Pendekatan berbasis sains, menurutnya, memungkinkan pemerintah memetakan risiko secara lebih akurat sekaligus merancang langkah mitigasi yang efektif.
Di sektor riil, dampak perubahan iklim mulai terasa nyata. PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo melakukan penyesuaian jadwal panen kopi akibat tingginya curah hujan pada awal 2026. Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, kondisi cuaca memaksa perusahaan mengubah ritme produksi demi menjaga kualitas hasil.
“Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi kinerja keuangan segmen kopi di perusahaan kami untuk tetap mencatatkan hasil positif,” kata Jatmiko.
Perusahaan mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp3,43 miliar pada triwulan I 2026, dengan penjualan yang meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, tekanan di sisi produksi tetap menjadi tantangan, terutama karena berkurangnya intensitas sinar matahari yang memengaruhi proses pematangan buah kopi.
sumber : Antara
Artikel terkait
Berita terbaru
JEC Dorong Pemeriksaan Mata untuk Tingkatkan Performa Pesepakbola
JEC menyoroti pentingnya kesehatan mata, dominansi silang, dan kemampuan membaca permainan untuk mendukung performa pesepakbola sejak usia dini.
Takluk dari Kendal Tornado FC, Coach Tavares Ambil Tanggung Jawab
Kekalahan yang menyakitkan harus diterima Persebaya saat mengawali kiprahnya di Grup G I.League Cup 2026/27. Di tengah hasil minor tersebut, Bernardo Tavares memilih mengambil...
Berpakaian Adat Khas Melayu, Kepala MAN 3 Bungo H. Haidir Hadiri Agenda Nasional di Masjid Istiqlal Jakarta
Jakarta — Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Bungo, H. Haidir, menghadiri rangkaian agenda kunjungan dan kegiatan formal tingkat nasional yang dipusatkan di Masjid...
Profil Jesus de Miguel, Jejak Karier Penyerang CD Tenerife yang Meninggal Dunia
Profil dan perjalanan karier Jesús de Miguel Alameda, penyerang CD Tenerife yang meninggal dunia pada usia 30 tahun.
