BPJS Kesehatan Sebut Penguatan FKTP Kunci Kendalikan Beban Penyakit Jantung di Papua

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA, – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menegaskan bahwa penguatan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) menjadi kunci vital dalam mengendalikan kasus penyakit jantung sekaligus menekan beban pembiayaannya di Papua. Direktur Utama BPJS Kesehatan mengungkapkan data signifikan terkait layanan jantung di wilayah tersebut selama periode 2024 hingga 2026.
Berdasarkan data yang dimiliki BPJS Kesehatan, tercatat sebanyak 98.132 kasus layanan jantung telah dilayani di Papua sepanjang periode 2024 hingga 2026. Angka ini menunjukkan tingginya kebutuhan penanganan penyakit kardiovaskular di provinsi paling timur Indonesia tersebut.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, di Jayapura, Kamis, menyatakan bahwa banyaknya kasus penyakit jantung merupakan dampak dari faktor risiko yang tidak terkendali di hulu. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya penguatan pelayanan di tingkat FKTP sebagai garda terdepan.
“Banyak kasus penyakit jantung merupakan dampak faktor risiko yang tidak terkendali di hulu. Untuk itu, perlu penguatan pelayanan di tingkat FKTP,” ujar Pujowaskito.
Transformasi Layanan Berbasis Hasil
Menurut Pujowaskito, pengendalian penyakit jantung tidak hanya dilakukan ketika peserta membutuhkan pelayanan di rumah sakit. Upaya tersebut harus dimulai sejak tingkat pertama melalui penguatan upaya promotif dan preventif. BPJS Kesehatan mendorong transformasi layanan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui pendekatan Value-Based Health Care (VBHC).
Pendekatan ini menempatkan hasil kesehatan dan efisiensi biaya sepanjang siklus pelayanan sebagai dasar utama. Melalui pendekatan tersebut, upaya pencegahan dan pengendalian faktor risiko dapat diperkuat, antara lain melalui pengendalian tekanan darah dan gula darah, pemantauan HbA1C secara rutin, kepatuhan terhadap pengobatan, serta pengawasan peserta yang memiliki risiko tinggi.
“Pada tingkat rumah sakit, penerapan mutu berbasis hasil dilakukan melalui pengambilan keputusan terpadu oleh Heart Team, pemanfaatan Fractional Flow Reserve (FFR), hingga penanganan staged revascularization,” jelas Pujowaskito.
Ia menambahkan, penerapan strategi tersebut juga diikuti dengan perubahan indikator evaluasi pelayanan. Evaluasi tidak lagi hanya melihat proses, tetapi lebih menekankan pada hasil dari tindakan medis yang diberikan kepada peserta. “Keberlanjutan JKN ditentukan oleh kemampuan menghasilkan kualitas kesehatan yang optimal bagi masyarakat,” tegasnya.
Sebelumnya, BPJS Kesehatan telah menggelar kegiatan media workshop bertema “Kupas Tuntas Layanan Jantung dalam Program JKN: Dari Akses Pelayanan Berkualitas hingga Layanan Jantung Canggih bagi Peserta” yang dilaksanakan secara daring pada Rabu (16/9).
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara
Artikel terkait
Berita terbaru
Dirikan Klub Sepak Bola Amputasi PERSAS, Khusnul Yakin Wisuda di Umsura dan Raih Beasiswa S2 Hukum
Perjalanan Khusnul Yakin menuju panggung wisuda Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) bukanlah perjalanan yang mudah. Terlahir sebagai penyandang disabilitas tunadaksa
Deteksi Dini TBC di Permukiman Lampung Masih Lemah
Upaya menemukan penderita tuberkulosis (TBC) sejak dini masih menjadi tantangan dalam penanganan penyakit tersebut.
Bukan Kehabisan Talenta, Ini Alasan PSSI Alihkan Perburuan Pemain Keturunan dari Belanda
PSSI dikabarkan tak lagi prioritaskan pemain keturunan Belanda untuk Timnas Indonesia. Regulasi non-EU dan KNVB menjadi pertimbangan dalam perubahan arah.
Derby della Madonnina: AC Milan Hajar Inter 3-1, Pulisic dan Moreira Bersinar
EKSPOSKALTIM, Milan - AC Milan keluar sebagai pemenang dalam Derby della Madonnina pertama musim 2026/27 setelah menghajar Inter Milan 3-1 di Stadion ...
