Saturday, 7 November 2026

Terkini
Bandar Lampung

Gubernur Lampung Sebut, Pupuk Hayati Cair Jadi Hulu Program Desaku Maju

Surplus panen petani Lampung tidak lahir dari satu faktor saja. Pemerintah Provinsi Lampung menempatkan pupuk hayati cair (PHC) di sisi hulu program Desaku Maju yang digagas Gubernur Lampung Rahmat Mirzani...

Sumber foto: RRI.co.id

RRI.CO.ID, Bandar Lampung – Surplus panen petani Lampung tidak lahir dari satu faktor saja. Pemerintah Provinsi Lampung menempatkan pupuk hayati cair (PHC) di sisi hulu program Desaku Maju yang digagas Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Hal itu disampaikan Kepala Bagian Quality Control Mikroba Culture, Joni Oktora, dalam dialog Indonesia Cerdas (Astacita) di RRI Pro 1 Bandar Lampung 90,9 FM, Rabu, 4 Oktober 2026.

Menurut Joni, Desaku Maju bertumpu pada penguatan sektor hulu pertanian lebih dulu. Pupuk, bibit, irigasi, dan lahan harus baik agar tercipta surplus. Setelah itu, hasil panen dapat diarahkan ke hilirisasi, misalnya pakan ternak, pakan ikan, dan produk lainnya.

“PHC berada di hulu. Hilirnya adalah efek dari hulu,” ujarnya.

Ia mencontohkan, peningkatan hasil panen sekitar 10 hingga 20 persen sudah membuat petani memiliki surplus untuk memenuhi kebutuhan hilirisasi. Pada tanaman padi, rata-rata kenaikan hasil berada di kisaran tersebut. Sebagian petani bahkan melaporkan peningkatan lebih tinggi. Hasil tiap lahan berbeda, tergantung kondisi lahan, bibit, dan irigasi.

PHC memanfaatkan mikroorganisme untuk menyuburkan tanah dan membantu tanaman menyerap unsur hara. Joni menggambarkan pupuk NPK sebagai bahan baku pabrik, sedangkan mikroba adalah karyawannya. Tanpa mikroba, pupuk kimia tidak bekerja optimal.

Berbeda dengan pupuk organik cair (POC) yang bakterinya diambil dari alam dan tidak selalu terstandar, PHC menggunakan starter mikroba terstandar dengan tambahan mineral organik sebagai penguat.

Proses produksinya diawali pematangan biang mikroba selama 14 hari memakai aerator dan drum tertutup. Biang ini kemudian dibagikan ke gabungan kelompok tani (gapoktan) untuk difermentasi. Agar mudah dipahami, kualitas PHC cukup dilihat dari warna cokelat kehitaman, pH di atas 7, dan aroma amonia yang menandakan kandungan nitrogen tinggi. Pemerintah provinsi juga membantu alat ukur pH meter dan TDS meter.

Petani tidak diminta langsung meninggalkan pupuk kimia. Pengurangan dilakukan bertahap, mulai 10 persen, lalu 30 persen, hingga 50 persen. Beberapa gapoktan yang telah menggunakan PHC lebih dari tiga musim tanam bahkan berani memakainya 100 persen tanpa pupuk kimia.

Langkah ini penting karena pupuk merupakan komponen biaya produksi terbesar petani. Target ke depan, penggunaan PHC dapat menekan biaya produksi 30 hingga 50 persen.

Pendampingan dilakukan lewat bimbingan teknis, brosur, leaflet, pamflet, serta pemantauan melalui grup gapoktan di 15 kabupaten/kota. Sasaran program pada 2025 mencakup 500 gapoktan, meningkat menjadi 800 pada 2026, dan ditargetkan bertambah hingga 1.200.

Joni menyebut Gubernur Lampung berharap semakin banyak petani merasakan manfaat PHC. Strateginya, petani diajak saling bercerita kepada sesama petani.

“Kalau akar rumputnya sendiri yang bercerita, pengaruhnya lebih besar,” katanya.

Sumber: RRI.co.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *