Thursday, 5 November 2026

Terkini
Bola

Tumbang di Kandang Fenerbahce, Iraola Soroti Rapuhnya Pertahanan Liverpool

Liverpool kalah 2-3 dari Fenerbahce di Liga Champions. Andoni Iraola menyoroti buruknya pertahanan bola mati yang membuat The Reds kehilangan rekor sempurna.

Sumber foto: TIMES Indonesia

JAKARTA – Kegagalan mengantisipasi bola mati menjadi persoalan serius bagi Liverpool setelah menelan kekalahan 2-3 dari Fenerbahce dalam lanjutan Liga Champions, Kamis (5/11/2026) dini hari WIB. Kekalahan di Istanbul itu sekaligus mengakhiri catatan sempurna The Reds di kompetisi antarklub tertinggi Eropa musim ini.

Pelatih Liverpool, Andoni Iraola, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai timnya terlalu mudah memberikan gol kepada tuan rumah melalui situasi bola mati. Kesalahan tersebut membuat Liverpool kehilangan kendali pertandingan meski dua kali sempat unggul.

"Gol-gol yang murah. Gol-gol yang berantakan," kata Iraola dalam konferensi pers seusai pertandingan.

Dalam pertandingan yang berlangsung penuh drama tersebut, Liverpool sebenarnya memulai laga dengan cukup baik. Trey Nyoni membawa tim tamu unggul sekaligus mencetak gol pertamanya untuk klub.

Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama setelah Mason Greenwood menyamakan kedudukan. Liverpool kembali memimpin melalui Alexander Isak, tetapi Fenerbahce kembali menemukan celah untuk menyamakan skor lewat Archie Brown.

Petaka bagi Liverpool datang pada menit ke-79. Vedat Muriqi mencetak gol penentu kemenangan Fenerbahce yang memastikan tuan rumah mengamankan tiga poin.

Iraola secara khusus menyoroti tiga situasi yang berujung gol bagi Fenerbahce, yakni tendangan bebas, sepak pojok, dan lemparan ke dalam jarak jauh.

Menurutnya, Liverpool seharusnya mampu mengantisipasi situasi tersebut dengan lebih baik. Terlebih, pertahanan bola mati sempat menjadi salah satu aspek permainan yang mengalami perbaikan pada awal musim ini.

"Kami kebobolan melalui tendangan bebas, sepak pojok, dan lemparan ke dalam jarak jauh. Hal itu sangat merugikan kami," ujar Iraola.

Ia juga menjelaskan sejumlah detail kesalahan yang terjadi. Gol dari tendangan bebas tercipta meski posisi eksekusinya cukup jauh. Sementara itu, gol lainnya terjadi setelah Cody Gakpo menyentuh bola tepat di depan kiper Alisson Becker.

Kondisi stadion yang sangat bising turut menyulitkan komunikasi antarpemain. Iraola mengakui kesulitan memberikan instruksi dari pinggir lapangan, termasuk koordinasi antara Gakpo dan Alisson.

"Kami sudah dua kali unggul, tetapi kebobolan dalam situasi yang seharusnya bisa kami tangani dengan jauh lebih baik," katanya.

Kekalahan ini juga memperpanjang catatan buruk Liverpool ketika bermain di Turki. Dari sembilan pertandingan di negara tersebut, Liverpool hanya mencatat satu kemenangan dan satu hasil imbang, sementara tujuh pertandingan lainnya berakhir dengan kekalahan.

Lebih jauh, Liverpool belum pernah mencatatkan clean sheet ketika bertanding di Turki, termasuk dalam pertandingan Liga Champions dan final Piala Super.

Hasil negatif di Istanbul menambah tekanan terhadap konsistensi Liverpool. Setelah sebelumnya membukukan lima kemenangan beruntun di seluruh kompetisi, The Reds kini harus menerima dua kekalahan berturut-turut.

Kekalahan dari Fenerbahce dinilai lebih menyakitkan dibandingkan hasil negatif saat menghadapi Arsenal pada Minggu sebelumnya. Sebab, Liverpool sebenarnya memiliki peluang besar untuk mempertahankan awal sempurna di Liga Champions.

Catatan lain yang memperlihatkan persoalan pertahanan mereka adalah kebobolan tiga gol dalam tiga pertandingan Eropa secara beruntun. Ini menjadi kali pertama Liverpool mengalami catatan tersebut.

Situasi itu semakin kontras karena Fenerbahce sebelumnya sempat mengalami kekalahan telak 0-6 dari Aston Villa pada bulan lalu.

Selain persoalan pertahanan, keputusan Iraola melakukan rotasi pemain juga menjadi perhatian. Dalam pertandingan melawan Fenerbahce, ia melakukan lima perubahan dari susunan pemain ketika menghadapi Arsenal.

Sejumlah pemain penting seperti Alexander Isak, Florian Wirtz, dan Cody Gakpo memulai pertandingan dari bangku cadangan sebelum dimainkan pada babak kedua.

Namun, Iraola menegaskan rotasi tersebut bukan penyebab utama kekalahan Liverpool. Menurutnya, perubahan komposisi pemain merupakan bagian dari kebutuhan tim menghadapi jadwal pertandingan yang padat.

"Kami tidak hanya melakukan ini hari ini. Sepanjang musim, setiap pertandingan tengah pekan kami melakukan empat atau lima perubahan karena tidak mungkin mempertahankan susunan pemain utama yang sama," jelasnya.

Iraola juga menegaskan kepercayaannya terhadap kedalaman skuad Liverpool. Ia menilai para pemain yang diturunkan memiliki kualitas untuk menjaga level permainan tim.

"Saya percaya kepada skuad untuk mempertahankan level permainan. Saya tidak berpikir rotasi menjadi alasan utama kami kalah. Kami harus lebih melihat bagaimana gol-gol itu terjadi sebagai alasan mengapa kami gagal menang," ucapnya. (*)

Sumber: TIMES Indonesia. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *