Tuesday, 3 November 2026

Terkini
Timur Tengah

Iran dan Rusia Bahas Eskalasi Timur Tengah Lewat Telepon

Mohsen Rezaei dan Vladimir Putin membahas ketegangan Timur Tengah saat Iran bersiap menghadapi kemungkinan serangan AS dan Israel.

Sumber foto: Lensa Hukum

LensaHukum.co.id, Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian dalam komunikasi tingkat tinggi antara Teheran dan Moskow. Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei berbicara melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas perkembangan situasi di Timur Tengah, dilansir dari Detikcom.

Komunikasi tersebut berlangsung ketika hubungan Iran dengan AS semakin memanas. Pada saat bersamaan, AS dan Israel dilaporkan tengah mempersiapkan kemungkinan operasi militer baru terhadap wilayah Iran.

Pembicaraan Rezaei dan Putin juga menjadi kelanjutan dari pertemuan sebelumnya antara pejabat senior kedua negara. Fokus diskusi mereka mencakup perkembangan konflik serta peningkatan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Kantor berita Iran, IRNA, melaporkan bahwa komunikasi tersebut merupakan bagian dari konsultasi tingkat tinggi yang terus dilakukan oleh kedua negara. Informasi mengenai percakapan itu juga diberitakan AFP pada Senin (2/11/2026).

Dalam laporannya, IRNA menjelaskan keterlibatan kedua pejabat dalam pembahasan situasi regional.

"Sebagai bagian dari konsultasi tingkat tinggi antara Iran dan Rusia, serta menyusul pertemuan-pertemuan terkini antara para pejabat senior kedua negara, Jenderal Mohsen Rezaei-sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran-dan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas situasi terkini… di Timur Tengah melalui percakapan telepon," demikian laporan IRNA.

Di tengah komunikasi dengan Rusia, pemerintah Iran juga menyampaikan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan dari Washington. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya memiliki kesiapan untuk menghadapi segala bentuk serangan AS.

Menurut pemberitaan Al Jazeera, Araghchi menyampaikan bahwa Teheran tidak hanya mempertimbangkan penyelesaian melalui jalur diplomatik, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konfrontasi militer.

Pernyataan tersebut disampaikan kepada kantor berita IRNA ketika Araghchi berada di Ashgabat, Turkmenistan. Ia turut menjelaskan perkembangan komunikasi yang melibatkan negara-negara penengah dalam upaya membahas ketegangan antara Iran dan AS.

Qatar dan Pakistan disebut berperan sebagai pihak perantara dalam konsultasi yang kini semakin diintensifkan. Teheran juga telah menyampaikan proposalnya dalam proses komunikasi tersebut.

Mengenai peluang penyelesaian melalui perundingan, Araghchi menilai keputusan Washington menjadi salah satu faktor penentu arah hubungan kedua negara.

"Segala sesuatunya bergantung pada rasionalitas politik Washington," ujar Araghchi.

Selain persoalan diplomasi dan keamanan, pembukaan kembali Selat Hormuz turut menjadi bagian dari sikap yang disampaikan pemerintah Iran. Araghchi mengaitkan keputusan tersebut dengan kesediaan AS menerima persyaratan yang diajukan Teheran.

Menurut penjelasannya, penerimaan terhadap persyaratan Iran akan membuka peluang bagi pemulihan aktivitas di jalur perairan tersebut sekaligus kelanjutan negosiasi. Sebaliknya, penolakan Washington berarti situasi yang berlangsung saat ini akan tetap dipertahankan.

Araghchi menyampaikan sikap pemerintahnya mengenai hubungan antara persyaratan tersebut, pembukaan Selat Hormuz, dan keberlanjutan pembicaraan kedua negara.

"Dengan menerima syarat-syarat tersebut, Selat Hormuz akan dibuka kembali dan negosiasi akan dilanjutkan. Jika tidak, situasi saat ini akan terus berlanjut dan Iran tidak akan tunduk," tegasnya.

Di sisi lain, perkembangan hubungan AS dan Iran juga menjadi pembahasan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Keduanya dilaporkan melakukan komunikasi melalui telepon pada akhir pekan.

Dalam percakapan tersebut, Netanyahu disebut berusaha meyakinkan Trump agar mempertimbangkan serangan terhadap Iran setelah pemilu sela AS yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November selesai digelar.

Laporan Axios yang mengutip sejumlah pejabat AS dan Israel mengungkapkan bahwa pembicaraan kedua pemimpin mencakup kemungkinan peningkatan operasi militer terhadap Teheran. Informasi tersebut turut diberitakan AFP dan Al Arabiya pada Senin (2/11).

Persoalan utama yang dibicarakan bukan hanya kemungkinan dilakukannya operasi militer, melainkan juga waktu pelaksanaannya. Kedua pihak disebut membahas apakah peningkatan aktivitas tempur terhadap Iran akan dilakukan.

Axios juga melaporkan bahwa Trump dan Netanyahu membicarakan perkembangan negosiasi dengan pemerintah Iran dalam percakapan telepon pada Sabtu (31/10) waktu setempat.

Dalam komunikasi itu, Netanyahu dilaporkan kembali mendorong Trump agar serangan terhadap Iran dilaksanakan segera setelah pemilu sela AS berakhir. Perkembangan tersebut berlangsung bersamaan dengan upaya diplomatik Teheran melalui Qatar dan Pakistan serta komunikasi keamanan dengan Rusia.

Sumber: Lensa Hukum. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *