Friday, 30 October 2026

Terkini
Timur Tengah

Harga Minyak Dunia Melonjak di Tengah Ketegangan AS Iran

Harga WTI naik 3,82% menjadi US$ 103,27 per barel dan Brent menguat 3,14% ke US$ 116,72 akibat risiko geopolitik dan gangguan pasokan.

Sumber foto: Demokratis.co.id

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta gangguan produksi di Libya meningkatkan risiko pasokan energi global dan mendorong harga minyak mentah menguat pada Jumat (23/10/2026). Dilansir dari Investasi, minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 3,82% menjadi US$ 103,27 per barel, sedangkan Brent meningkat 3,14% menjadi US$ 116,72 per barel. Kekhawatiran pasar muncul di tengah potensi serangan baru AS terhadap Iran dan laporan mengenai rencana operasi militer AS bersama Israel setelah pemilihan paruh waktu AS.

Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian terhadap ketersediaan pasokan minyak dunia. Presiden AS Donald Trump pada Rabu menyatakan bahwa Washington tidak sedang bernegosiasi dengan Teheran dan mengisyaratkan perkembangan dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut memperkuat perhatian pasar terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai faktor geopolitik turut memengaruhi pergerakan harga minyak mentah. Ia juga menyoroti konflik di Eropa Timur sebagai salah satu perkembangan yang memengaruhi kondisi pasar.

"Ya salah satu penyebabnya adalah secara geopolitik. Geopolitik pertama ini tentang masalah perang di Eropa Timur yang semakin menjadi-jadi," ujar Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Minggu (25/10/2026). Selain konflik geopolitik, penghentian produksi minyak di Libya akibat sabotase menambah kekhawatiran mengenai pasokan. Libya merupakan salah satu produsen minyak mentah yang memasok pasar global.

Ibrahim memperkirakan gangguan produksi di negara tersebut dapat memengaruhi pergerakan harga Brent dan memperlebar perbedaannya dengan WTI. Ia menyoroti karakteristik minyak mentah Libya yang berkualitas tinggi sebagai salah satu faktor dalam proyeksinya. "Libya saat ini menghentikan produksi karena adanya sabotase. Kami lihat bahwa Libya salah satu negara penghasil minyak mentah kualitas tinggi yaitu brent oil ya sehingga pada saat pergantian minyak di produksi minyak di Libya ini akan membuat kemungkinan besar brent oil yaitu akan di US$ 118 melebihi WTI crude oil yang kemungkinan besar hanya di US$ 108,30," kata Ibrahim Assuaibi.

Risiko pasokan di Timur Tengah juga meningkat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan terhadap Arab Saudi. Situasi keamanan tersebut mendorong Departemen Luar Negeri AS memerintahkan personel yang tidak esensial untuk meninggalkan negara itu. Di sisi lain, Saudi Aramco dilaporkan meminta staf di kantor pusatnya di Dhahran bekerja dari jarak jauh setelah serangkaian serangan.

Perkembangan ini menambah perhatian terhadap keamanan operasional energi di kawasan tersebut. Kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan inflasi global melalui peningkatan biaya transportasi dan logistik. Harga energi yang bertahan tinggi juga dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.

Untuk pekan terakhir Oktober 2026, Ibrahim memproyeksikan harga WTI bergerak dalam rentang US$ 96,90 hingga US$ 108,30 per barel. Sementara itu, harga Brent diperkirakan berpotensi menembus US$ 118 per barel.

Sumber: Demokratis.co.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *