Lahan Pertanian di Jateng Terus Merosot, Kontribusi Pangan Nasional Diprediksi Anjlok ke 5 Persen
Peran Jawa Tengah sebagai penyangga pangan nasional terancam melemah. Jika alih fungsi lahan pertanian terus dibiarkan, kontribusi produksi pangan Jateng yang kini sekitar 18 persen diprediksi mero…

INDORAYA – Peran Jawa Tengah sebagai penyangga pangan nasional terancam melemah. Jika alih fungsi lahan pertanian terus dibiarkan, kontribusi produksi pangan Jateng yang kini sekitar 18 persen diprediksi merosot hingga tinggal 5 persen dalam 20 tahun ke depan.
Peringatan itu disampaikan Senator DPD RI asal Jawa Tengah, Abdul Kholik, dalam Seminar Nasional bertajuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan Nasional: Strategi dan Prospek Jawa Tengah sebagai Penyangga Pangan Nasional di Kantor DPD RI, Rabu (14/10/2026).
Menurut Kholik, tren penurunan itu sudah terlihat dan bisa semakin dalam jika tidak ada penanganan ekstra. “Dalam 20 tahun ke depan, trennya berpotensi tinggal 5 persen,” ujarnya.
Penurunan tersebut berawal dari menyusutnya lahan. Dalam lima tahun terakhir, Jawa Tengah tercatat kehilangan sekitar 80 ribu hektare lahan pertanian produktif. Lahan sawah yang semula mencapai 1,2 juta hektare kini hanya menyisakan sekitar 900 ribu hektare.
Penyebab utamanya adalah alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan permukiman. Dua persoalan lain ikut memperburuk keadaan, yakni krisis regenerasi petani dan terbatasnya infrastruktur irigasi. “Apa faktor utamanya? Satu, soal lahan pertanian yang terus berkurang,” tegas Kholik.
Alih fungsi paling masif terjadi di Kabupaten Grobogan, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi Jawa Tengah. Letaknya yang berdekatan dengan Kota Semarang membuat wilayah ini diincar investor seiring semakin terbatasnya lahan di ibu kota provinsi.
“Selain dekat dengan Semarang, wajar kalau kemudian banyak industri lari ke sana. Grobogan menjadi penyangga Semarang,” jelas Kholik.
Untuk menahan laju penyusutan itu, DPD RI mengusulkan pembentukan daerah khusus pangan. Wilayah Jawa Tengah bagian selatan, yang disebut Jasela, diusulkan menjadi daerah khusus yang berfokus pada ketahanan dan kedaulatan pangan.
“Konsep sementara yang kami dorong adalah menjadikan wilayah selatan sebagai daerah khusus penyangga pangan, yang kita sebut Jawa Tengah bagian selatan (Jasela) atau Jawa Selatan,” pungkas Kholik.
Sumber: Indoraya News. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Punya Statestik Menterang, Striker Keturunan di Liga Islandia ini Bikin PSSI Kepincut
Setelah Demian Hesus Agustien yang bermain di Arsenal ramai diperbincangkan menjadi calon pemain naturalisasi, terbaru PSSI mulai memantau satu lagi pemain muda berdarah Indonesia...
Polda Banten Apresiasi Suporter, Pertandingan Dewa United vs Persija Berlangsung Tertib dan Kondusif
Serang – Polda Banten menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh suporter serta pecinta...
MU Hancur di Stamford Bridge! Kartu Merah Martinez Bisa Jadi Akhir Carrick
Manchester United kembali menelan hasil buruk setelah kalah 0-2 dari Chelsea dalam lanjutan Premier League di Stamford Bridge.
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.
