Sunday, 1 November 2026

Terkini
Nasional

Macron Pamer M51.3, Putin Punya Sarmat: Rudal Nuklir Siapa Lebih Unggul?

Macron Pamer M51.3, Putin Punya Sarmat: Rudal Nuklir Siapa Lebih Unggul?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden Prancis Emmanuel Macron memperlihatkan kekuatan penangkalan nuklir negaranya melalui peluncuran rudal balistik strategis M51.3 dari kapal selam bertenaga nuklir Le Vigilant, Selasa (6/10/2026). Rudal yang dirancang membawa sejumlah hulu ledak nuklir itu melesat dari perairan Atlantik ketika ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa terus meningkat. Demonstrasi tersebut segera mendapat kecaman Kremlin yang menilai Paris semakin mengarahkan strategi pertahanannya pada konfrontasi dengan Moskow.

Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin mempunyai senjata strategis dengan ukuran dan kapasitas muatan yang jauh lebih besar. Senjata tersebut adalah RS-28 Sarmat, rudal balistik antarbenua berbasis darat yang diklaim Putin sebagai sistem rudal paling kuat di dunia. Moskow menyatakan Sarmat mampu menembus sistem pertahanan antirudal modern dan menjangkau sasaran di berbagai belahan dunia.

Dua rudal tersebut memperlihatkan perbedaan mendasar dalam pengembangan persenjataan strategis Prancis dan Rusia. M51.3 mengandalkan kemampuan diluncurkan dari kapal selam yang beroperasi secara tersembunyi, sedangkan Sarmat dirancang membawa muatan strategis berukuran besar dari fasilitas peluncuran di daratan. Perbandingan keduanya tidak hanya menyangkut jangkauan dan jumlah hulu ledak, tetapi juga kemampuan bertahan serta kesiapan operasional.

Menurut laporan Reuters, Macron menyaksikan peluncuran M51.3 dari fregat Auvergne di lepas pantai Bretagne, Prancis barat. Pengujian berlangsung tanpa hulu ledak nuklir dan bertujuan memastikan kesiapan sistem persenjataan kapal selam Le Vigilant setelah menjalani perawatan besar. Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis menyatakan peluncuran tersebut berjalan sesuai rencana dan memenuhi kewajiban internasional.

“Hari ini kita lebih kuat. Pesan telah disampaikan dengan jelas kepada pihak yang perlu menerimanya,” kata Macron melalui pernyataan yang dikutip Reuters, Selasa (6/10/2026).

Macron tidak secara langsung menyebut Rusia sebagai penerima pesan tersebut. Namun, pengujian berlangsung di tengah meningkatnya perdebatan mengenai keamanan Eropa, perang Ukraina, dan peringatan Rusia tentang kemungkinan penggunaan kekuatan nuklir apabila wilayahnya menghadapi serangan. Kehadiran Macron dalam pengujian memberikan dimensi politik terhadap kegiatan militer yang telah direncanakan sebelumnya.

Kremlin memberikan tanggapan sehari kemudian. Juru bicara Presiden Rusia, Dmitry Peskov, mengatakan Moskow telah menerima pesan Prancis, tetapi mengkritik kecenderungan negara-negara Eropa membangun kebijakan pertahanan berdasarkan konfrontasi dengan Rusia.

“Ini merupakan jalan buntu. Sebagaimana ditunjukkan sejarah, pendekatan seperti itu tidak menghasilkan sesuatu yang baik,” ujar Peskov sebagaimana dilaporkan Reuters, Rabu (7/10/2026).

Peskov juga menyatakan Rusia tetap waspada terhadap perkembangan militer Eropa, tetapi terbuka terhadap dialog mengenai keamanan kawasan. Menurutnya, persoalan keamanan seharusnya diselesaikan melalui perundingan, bukan demonstrasi peluncuran rudal.

M51.3: Kekuatan Nuklir dari Dasar Laut

M51.3 merupakan generasi ketiga keluarga rudal balistik strategis M51 yang dikembangkan Prancis untuk sistem persenjataan kapal selam nuklir. Rudal tersebut masuk kategori submarine-launched ballistic missile (SLBM), yakni rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam. Sistem ini menjadi komponen utama kekuatan penangkalan nuklir berbasis laut Prancis.

Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis menyatakan M51.3 telah memasuki layanan operasional pada 24 Oktober 2025. Rudal itu dikembangkan oleh ArianeGroup dengan peningkatan kemampuan jangkauan, akurasi, serta penetrasi terhadap pertahanan antirudal dibandingkan versi sebelumnya. M51.3 juga dirancang membawa hulu ledak nuklir generasi baru TNO-2.

Berdasarkan data Center for Strategic and International Studies (CSIS), keluarga rudal M51 memiliki panjang sekitar 13 meter, diameter 2,35 meter, dan bobot peluncuran sekitar 53 ton. Rudal tersebut menggunakan tiga tahap pendorong berbahan bakar padat serta dirancang membawa beberapa hulu ledak yang dapat diarahkan ke sasaran berbeda. Teknologi itu dikenal sebagai multiple independently targetable reentry vehicles (MIRV).

CSIS memperkirakan konfigurasi keluarga M51 mampu membawa sekitar empat hingga enam hulu ledak. Namun, angka tersebut merujuk pada keluarga rudal M51 secara umum dan tidak dapat dipastikan sebagai konfigurasi operasional khusus M51.3. Pemerintah Prancis tidak mengungkap seluruh rincian muatan rudal strategis terbarunya.

Jangkauan maksimum M51.3 juga tidak diumumkan secara terbuka oleh Paris. Reuters pada 6 Oktober 2026 menyebut estimasi publik mengenai keluarga M51 umumnya berada pada kisaran 9.000 kilometer atau lebih, sedangkan pejabat Prancis menyatakan versi terbaru memiliki jangkauan yang meningkat. Angka tersebut merupakan perkiraan kemampuan sistem, bukan hasil pengukuran maksimum dari pengujian terbaru yang diumumkan pemerintah.

Namun, kekuatan M51.3 tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjangkau sasaran yang jauh. Rudal tersebut ditempatkan pada kapal selam yang dapat beroperasi secara tersembunyi di lautan, sehingga posisi peluncurnya sulit diketahui calon lawan. Kerahasiaan lokasi kapal selam menjadi bagian penting strategi penangkalan karena memberikan kemungkinan untuk mempertahankan kemampuan serangan balasan.

Prancis mengoperasikan empat kapal selam nuklir pembawa rudal balistik kelas Le Triomphant. Kapal-kapal tersebut menjadi tulang punggung kekuatan nuklir berbasis laut yang dipertahankan Paris untuk melindungi kepentingan vital negaranya. M51.3 dirancang memperpanjang kredibilitas kemampuan tersebut ketika negara-negara lain mengembangkan sistem pertahanan antirudal yang semakin canggih.

Sarmat: Rudal Raksasa Andalan Putin

Berbeda dengan M51.3 yang diluncurkan dari kapal selam, RS-28 Sarmat merupakan rudal balistik antarbenua atau intercontinental ballistic missile (ICBM) berbasis silo darat. Rudal tersebut dikembangkan Rusia untuk menggantikan sistem R-36M2 Voevoda peninggalan Uni Soviet yang telah digunakan selama beberapa dekade. Sarmat menjadi salah satu proyek modernisasi kekuatan nuklir strategis Rusia yang diumumkan Putin sejak 2018.

Perbedaan ukuran kedua rudal sangat mencolok. Berdasarkan data CSIS Missile Threat, Sarmat memiliki panjang sekitar 35,3 meter, diameter tiga meter, dan bobot peluncuran sekitar 208 ton. Rudal tersebut menggunakan tiga tahap pendorong berbahan bakar cair serta dirancang membawa muatan strategis hingga sekitar 10 ton.

Read More

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *