Harga BBM Melonjak, Negara di Eropa Gelontorkan Subsidi hingga Memangkas Pajak

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2804588/original/082629000_1557803963-EU.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta – Perang di Timur Tengah dan Ukraina mendorong pemerintah di berbagai negara Eropa merancang subsidi, pajak, dan revisi kebijakan demi melindungi ekonomi, perusahaan, dan warga dari harga bensin serta solar yang mencetak rekor.
Diungkap Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dalam laporan Rabu, 23 September 2026, tujuh dari 10 negara yang paling aktif menahan kerugian ekonomi akibat krisis energi berasal dari Uni Eropa (UE).
“Ironi kejam bahwa Amerika Serikat (AS) justru paling tidak rentan terhadap krisis buatannya sendiri, sementara ekonomi Eropa kembali menanggung dampaknya,” kata Analis Transport & Environment Antony Froggatt, dikutip dari AP News, Jumat (25/9/2026).
Sejumlah kebijakan diambil, seperti Lithuania yang memangkas separuh harga tiket kereta, sementara Yunani menaikkan pajak perjudian untuk mendanai bantuan publik. Bahkan, Italia menunda pembongkaran pembangkit listrik tenaga batu bara yang sebelumnya sudah dijadwalkan serta memangkas persyaratan administrasi proyek minyak dan gas alam.
Belanda menambah dana program layanan penghematan energi gratis di rumah tangga, sedangkan Polandia mengusulkan pajak tinggi atas laba rekor sejumlah produsen dan penjual bahan bakar.
UE mengimpor hampir seluruh minyak yang digunakannya dan 85% gas alam, sehingga berhasil memasok 57% kebutuhan energi.
Warga Eropa semakin resah karena harga bahan bakar melampaui US$ 12 per galon atau Rp 214.806 (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.900) di sejumlah negara. Mereka bisa menghabiskan tambahan 203 juta euro per hari atau Rp 4,1 triliun (asumsi kurs euro terhadap rupiah 20.400) hanya untuk solar.
Prancis dan Jerman Perluas Bantuan Bahan Bakar
Perbesar
“Tekanan dari harga energi dan biaya pinjaman yang lebih tinggi sangat terasa bagi masyarakat dan bisnis. Kami perlu memperkuat energi bersih buatan sendiri, baik energi terbarukan dan nuklir, maupun biometana dan lainnya,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dalam pidato tahunan State of the European Union pekan lalu.
Pemerintah Prancis pada Selasa mengumumkan paket bantuan senilai 450 juta euro atau Rp 9,1 triliun, memberi 5,5 juta pekerja hak terhadap pembayaran 100 euro atau Rp 2 juta untuk menutup biaya bahan bakar hingga akhir tahun.
Paket itu turut memperpanjang subsidi bahan bakar bagi petani, nelayan, dan perusahaan konstruksi. Pemerintah juga mempercepat pemberian voucher energi senilai 48-277 euro atau Rp 978.994-5,6 juta bagi 5,8 juta keluarga.
Permintaan Prancis
Perbesar
Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta von der Leyen mendorong pelonggaran regulasi kualitas bahan bakar UE, termasuk menaikkan batas kandungan biodiesel dalam solar standar dari 7% menjadi 10%. Ia memperingatkan harga minyak dunia bisa melonjak tajam jika Selat Hormuz tak segera dibuka kembali bagi lalu lintas kapal tanker.
Di Jerman, pemotongan pajak bahan bakar yang sempat berakhir pada Juni akan diperpanjang mulai 1 Oktober hingga akhir tahun. Kebijakan yang memangkas harga bensin dan solar sebesar 17 sen atau Rp 3.468 per liter itu diperkirakan menelan biaya 2,5 miliar euro atau Rp 50,9 triliun.
Pemerintah juga berencana membahas penerapan batas atas harga bahan bakar dengan industri minyak mulai 1 Januari, mengikuti kebijakan serupa yang telah lama diterapkan Belgia dan Luksemburg.
Ada Ketergantungan Baru Terhadap Energi AS
Perbesar
Spanyol memperpanjang pemangkasan pajak bensin dan solar pula, sebesar 5 sen atau Rp 1.020 per liter yang diperkenalkan pada Maret. Kebijakan itu menjadi bagian dari paket senilai 5 miliar euro atau Rp 101,9 triliun, dengan mekanisme otomatis menaikkan potongan menjadi 20 sen atau Rp 4.080 per liter jika inflasi harga bahan bakar melampaui 15 persen secara tahunan.
Negara-negara UE turut memanfaatkan cadangan strategis sebagai bagian kesepakatan International Energy Agency (IEA). Total 400 juta barel minyak dari stok darurat disiapkan untuk pasar.
Von der Leyen menyebut, elektrifikasi yang lebih besar bisa memangkas tagihan tahunan UE untuk energi fosil impor hingga 260 miliar euro atau Rp 5,3 kuadriliun pada 2040.
Di sisi lain, dukungan Presiden AS Donald Trump untuk melarang ekspor solar demi menekan harga domestik AS turut mengkhawatirkan UE. Brussels kini melobi Washington agar membatalkan rencana tersebut.
“Kami meyakini ini ide yang buruk. Kerja sama UE-AS di bidang energi kuat, stabil, dan saling menguntungkan,” kata juru bicara Komisi Eropa, Olof Gill.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Thurfah Mahira Ahnaf, Agustina MelaniTim Redaksi
Share
Artikel terkait
Berita terbaru
Punya Statestik Menterang, Striker Keturunan di Liga Islandia ini Bikin PSSI Kepincut
Setelah Demian Hesus Agustien yang bermain di Arsenal ramai diperbincangkan menjadi calon pemain naturalisasi, terbaru PSSI mulai memantau satu lagi pemain muda berdarah Indonesia...
Polda Banten Apresiasi Suporter, Pertandingan Dewa United vs Persija Berlangsung Tertib dan Kondusif
Serang – Polda Banten menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh suporter serta pecinta...
MU Hancur di Stamford Bridge! Kartu Merah Martinez Bisa Jadi Akhir Carrick
Manchester United kembali menelan hasil buruk setelah kalah 0-2 dari Chelsea dalam lanjutan Premier League di Stamford Bridge.
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2833716/original/032535900_1561082261-uniero.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2373006/original/020378100_1540435883-macron.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490104/original/053721500_1769996978-Untitled.jpg)