Selat Hormuz Terancam Konflik AS-Iran, Pakar Wanti-wanti Lonjakan Harga Minyak

JAKARTA, KOMPAS.com – Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran berpotensi membawa dampak serius bagi perekonomian global, termasuk Indonesia.
Hal ini menyusul langkah Iran yang menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Baca juga: Prabowo Siap Jadi Mediator Iran-AS, JK: Niat Baik, tapi Dunia Ditentukan Amerika
Pakar hubungan internasional dari Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, mengatakan bahwa kunci dampak global konflik ini sangat bergantung pada kemampuan Iran mengonsolidasikan kekuatan politik dan militernya pasca kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei.
“Dampaknya bagi Indonesia, semua bergabung pada resiliensi kekuatan politik-militer Iran pasca Khamenei,” ujar Umam kepada Kompas.com, Minggu (1/3/2026).
“Jika Iran mampu mengonsolidasikan kekuatannya di masa transisi di tengah gempuran militer AS-Israel, serta mampu melakukan perlawanan intensif setidaknya selama dua minggu ke depan, maka gangguan pasokan energi global yang melewati Selat Hormuz akan berdampak pada kenaikan harga minyak dunia,” ujarnya.
Umam menjelaskan, Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Setiap gangguan keamanan di kawasan tersebut berpotensi langsung memicu lonjakan harga minyak global.
Selat Hormuz berada di kawasan Timur Tengah, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan selanjutnya ke Laut Arab.
Secara geografis, selat ini berada di antara Iran di sisi utara dan Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan.
Baca juga: Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas, JK: Kita Bersedih
Selat ini sangat strategis karena menjadi jalur utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan UEA ke pasar global, termasuk Asia.
Menurut dia, jika Iran mampu bertahan dari tekanan militer Amerika Serikat dan Israel, maka eskalasi konflik tidak hanya berhenti pada perang terbatas, melainkan berpotensi meluas menjadi konflik regional.
“Jika Iran mampu bertahan, maka eskalasi regional berpotensi memperluas konflik dan mengganggu rantai pasok internasional,” kata Umam.
Baca juga: Prabowo Siap Jadi Fasilitator AS–Iran, Anggota DPR: Butuh Kalkulasi Matang
Ia menambahkan, konflik yang berkepanjangan akan memberi tekanan besar pada kondisi fiskal banyak negara.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak berisiko meningkatkan biaya impor energi, menekan nilai tukar rupiah, serta mempersempit ruang fiskal pemerintah di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan dan perlindungan sosial.
“Jika hal ini berkepanjangan, kenaikan harga minyak dunia akan berdampak serius terhadap kondisi fiskal negara-negara di dunia, termasuk Indonesia,” kata Umam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Artikel terkait
Berita terbaru
Pengembangan perkotaan cerdas: Menjamin keamanan, pertahanan nasional, pertahanan sipil, dan pembangunan berkelanjutan.
(CLO) Pemerintah bertujuan untuk menciptakan kota pintar yang mampu menjaga operasional infrastruktur penting dan layanan penting dalam situasi darurat dan pertahanan, memenuhi persyaratan pertahanan...
Keberhasilan PSR di Siak: Produktivitas TBS Koperasi Mitra PTPN IV Lampaui Target Nasional
SIAK, SAWIT INDONESIA - Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang dijalankan oleh PTPN IV PalmCo melalui PTPN IV Regional III menunjukkan capaian produktivitas...
Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Mulai Merangkak Naik
Kenaikan harga tersebut rata-rata mencapai Rp200 per kilogram dan mulai dirasakan pedagang sejak tiga hingga empat hari lalu.
Pentagon Pasok 25 Ribu Drone untuk Perkuat Militer AS di Timur Tengah
Metapos.id, Jakarta — Amerika Serikat (AS) terus memperkuat kesiapan militernya di kawasan Timur Tengah melalui pengiriman lebih dari 25.000 sistem
