Hasil Studi di AS, Pemilik EV Makin Puas dengan Mobil Listrik

JAKARTA, KOMPAS.com – Studi di Amerika Serikat mengungkap hampir seluruh pemilik mobil listrik atau electric vehicle (EV) menyatakan akan kembali memilih kendaraan listrik untuk mobil berikutnya.
Temuan ini terungkap dalam studi terbaru yang menunjukkan tingkat kepuasan pemilik EV kini berada pada level tertinggi sepanjang masa.
Berdasarkan studi yang dirilis oleh JD Power melalui 2026 US Electric Vehicle Experience (EVX) Ownership Study, sebanyak 96 persen pemilik EV mengaku tetap mempertimbangkan membeli atau menyewa EV lagi sebagai kendaraan selanjutnya.
Baca juga: Cara Daftar Mudik Gratis Pos Indonesia 2026, Ini Syarat dan Rutenya
Brent Gruber, Executive Director of the EV Practice di JD Power, mengatakan bahwa peningkatan teknologi menjadi faktor utama naiknya tingkat kepuasan tersebut.
Foto: Carscoops Russo-Balt F200, van listrik berdesain futuristis yang mirip Tesla Cybertruck versi van.
“Peningkatan teknologi baterai, infrastruktur pengisian daya, dan performa kendaraan secara keseluruhan telah mendorong kepuasan pelanggan ke tingkat tertinggi sepanjang sejarah,” ujarnya, dikutip dari Electrek, Kamis (19/2/2026).
Infrastruktur Makin Baik
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa ketersediaan pengisian daya publik menjadi aspek yang mengalami peningkatan paling signifikan.
Sejumlah produsen kini mulai mengadopsi standar pengisian North American Charging Standard (NACS) milik Tesla. Jaringan pengisian daya swasta lain juga terus memperluas cakupan layanannya.
Baca juga: Minum Kopi Saat Buka Puasa, Bantu Fokus Berkendara atau Bikin Dehidrasi?
Pada skala 1.000 poin, tingkat kepuasan pemilik EV segmen premium tercatat 652 poin, naik 101 poin dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, EV segmen mass market meraih 511 poin, meningkat 115 poin dibandingkan 2025.
Dok. Apnews.com Banyak mobil listrik Tesla dibakar para pendemo Trump, termasuk Cybertruck
Lebih Puas Dibanding PHEV
Studi ini juga menemukan bahwa tingkat kepuasan pemilik EV lebih tinggi dibandingkan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), terutama karena biaya kepemilikan yang dinilai lebih rendah.
Di segmen premium, EV mencatat skor 786, atau 114 poin lebih tinggi dibanding PHEV. Sementara di segmen mass market, EV meraih 727 poin, unggul 117 poin atas PHEV.
KOMPAS.com/FATHAN BYD Sealion 7
Studi ini merupakan tahun keenam pelaksanaan survei EVX Ownership Study di Amerika Serikat, dengan fokus pada pengalaman kepemilikan tahun pertama.
Sebanyak 5.741 pemilik EV dan PHEV model tahun 2025 dan 2026 terlibat dalam penelitian yang dilakukan bersama PlugShare.
Penilaian dilakukan berdasarkan 10 faktor, meliputi biaya kepemilikan, akurasi jarak tempuh baterai, ketersediaan pengisian publik dan kenyamanan berkendara.
Faktor lainnya kemudahan pengisian di rumah, desain interior dan eksterior, fitur keselamatan dan teknologi, pengalaman servis, hingga kualitas serta keandalan kendaraan secara keseluruhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Artikel terkait
Berita terbaru
Pengembangan perkotaan cerdas: Menjamin keamanan, pertahanan nasional, pertahanan sipil, dan pembangunan berkelanjutan.
(CLO) Pemerintah bertujuan untuk menciptakan kota pintar yang mampu menjaga operasional infrastruktur penting dan layanan penting dalam situasi darurat dan pertahanan, memenuhi persyaratan pertahanan...
Keberhasilan PSR di Siak: Produktivitas TBS Koperasi Mitra PTPN IV Lampaui Target Nasional
SIAK, SAWIT INDONESIA - Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang dijalankan oleh PTPN IV PalmCo melalui PTPN IV Regional III menunjukkan capaian produktivitas...
Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Mulai Merangkak Naik
Kenaikan harga tersebut rata-rata mencapai Rp200 per kilogram dan mulai dirasakan pedagang sejak tiga hingga empat hari lalu.
Pentagon Pasok 25 Ribu Drone untuk Perkuat Militer AS di Timur Tengah
Metapos.id, Jakarta — Amerika Serikat (AS) terus memperkuat kesiapan militernya di kawasan Timur Tengah melalui pengiriman lebih dari 25.000 sistem
