Satelit Deteksi Gelombang Raksasa di Samudra Pasifik, Apakah Bahaya?

Jakarta, CNN Indonesia —
Sebuah studi yang dirilis pada September 2025 mengungkap gelombang laut setinggi 20 meter di Samudra Pasifik dengan bantuan citra satelit. Lantas apakah gelombang pasifik semacam ini berbahaya?
Temuan ini diungkap dalam sebuah studi yang dirilis pada September 2025. Temuan ini memecahkan rekor sebagai gelombang tertinggi yang pernah terukur melalui citra satelit, sekaligus memunculkan pertanyaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian tersebut mengungkap bahwa gelombang laut bukan sekadar efek samping badai, melainkan “pembawa pesan” yang mampu mengirimkan energi destruktif ribuan kilometer melintasi samudra.
Artinya, meski badai tidak pernah menyentuh daratan, gelombangnya bisa tetap menghantam pantai yang jauh dari pusat badai.
Gelombang terbentuk akibat dorongan angin dan mencapai kekuatan maksimum saat badai berada di puncaknya. Namun, ancaman terbesar bagi wilayah pesisir seringkali bukan badai itu, melainkan gelombang panjang yang bergerak menjauh dari pusat badai.
Gelombang-gelombang panjang ini menyebar melintasi lautan, dan sifat-sifatnya mengungkapkan ukuran dan kekuatan badai. Misalnya, periode 20 detik berarti gelombang besar tiba setiap 20 detik.
Dalam studi terbaru, tim peneliti yang didanai melalui Inisiatif Perubahan Iklim Badan Antariksa Eropa (ESA Climate Change Initiative/CCI) menggabungkan data satelit SWOT (Surface Water and Ocean Topography) milik Prancis-AS dengan catatan panjang proyek CCI Sea State yang merekam kondisi gelombang sejak 1991.
Data tersebut berasal dari berbagai satelit, termasuk SARAL, Jason-3, Copernicus Sentinel-3A dan -3B, Sentinel-6 Michael Freilich, CryoSat, hingga CFOSAT. Kombinasi ini memungkinkan ilmuwan menganalisis gelombang ekstrem dengan presisi yang belum pernah ada sebelumnya.
Tim yang dipimpin Fabrice Ardhuin dari Laboratorium Oseanografi Fisik dan Ruang di Prancis menyoroti Badai Eddie, yang mencapai puncaknya pada 21 Desember 2024.
Badai ini tercatat sebagai yang terbesar dalam satu dekade terakhir berdasarkan rata-rata ketinggian gelombang, dengan gelombang hampir 20 meter di laut lepas.
Tak hanya mengukur tinggi gelombang, peneliti juga melacak pergerakan gelombang badai sejauh 24.000 kilometer. Gelombang tersebut menyebar dari Pasifik Utara, melewati Selat Drake di ujung Amerika Selatan, hingga mencapai Atlantik Tropis antara 21 Desember 2024 hingga 6 Januari 2025.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) ini menjadi yang pertama memberikan observasi langsung untuk memvalidasi model gelombang numerik dalam kondisi ekstrem. Hasilnya menunjukkan kecocokan erat antara pemodelan dan pengukuran satelit.
Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa gelombang laut panjang membawa energi besar dan dapat berdampak signifikan pada komunitas pesisir serta infrastruktur maritim, terutama di tengah perubahan iklim yang memengaruhi pola badai global.
Lebih lanjut, para ilmuwan telah lama meyakini bahwa gelombang laut yang sangat panjang membawa jumlah energi yang signifikan saat menyebar melintasi basin laut, namun temuan baru ini juga menunjukkan bahwa kandungan energi gelombang semacam itu telah secara sistematis diperkirakan terlalu tinggi.
Artinya, lebih banyak energi yang sebenarnya terkonsentrasi pada gelombang badai dominan, dibandingkan yang tersebar di antara gelombang terpanjang.
Pemodelan tersebut menunjukkan bahwa gelombang tertinggi dalam 34 tahun terakhir terjadi pada Januari 2014, ketika Badai Atlantik Hercules menghasilkan gelombang setinggi 23 meter yang menyebabkan kerusakan parah dari Maroko hingga Irlandia.
“Langkah selanjutnya adalah menghubungkan temuan ini dengan perubahan iklim. Kami akan menguji hal ini melalui model simulasi,” kata Ardhuin, dikutip dari laman Badan Antariksa Eropa (ESA).
Menurut Ardhuin, pihaknya saat ini dapat melacak tren intensitas badai sepanjang waktu. Perubahan iklim mungkin menjadi faktor pendorong, tetapi bukan satu-satunya.
“Misalnya, di pesisir, kondisi dasar laut juga memengaruhi gelombang, dan badai sebesar ini sangat jarang terjadi yang membuatnya sulit untuk membuktikan tren,” tuturnya.
(lom/dmi)
[Gambas:Video CNN]
Artikel terkait
Berita terbaru
Pengembangan perkotaan cerdas: Menjamin keamanan, pertahanan nasional, pertahanan sipil, dan pembangunan berkelanjutan.
(CLO) Pemerintah bertujuan untuk menciptakan kota pintar yang mampu menjaga operasional infrastruktur penting dan layanan penting dalam situasi darurat dan pertahanan, memenuhi persyaratan pertahanan...
Keberhasilan PSR di Siak: Produktivitas TBS Koperasi Mitra PTPN IV Lampaui Target Nasional
SIAK, SAWIT INDONESIA - Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang dijalankan oleh PTPN IV PalmCo melalui PTPN IV Regional III menunjukkan capaian produktivitas...
Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Mulai Merangkak Naik
Kenaikan harga tersebut rata-rata mencapai Rp200 per kilogram dan mulai dirasakan pedagang sejak tiga hingga empat hari lalu.
Pentagon Pasok 25 Ribu Drone untuk Perkuat Militer AS di Timur Tengah
Metapos.id, Jakarta — Amerika Serikat (AS) terus memperkuat kesiapan militernya di kawasan Timur Tengah melalui pengiriman lebih dari 25.000 sistem
