1,1 Miliar Anak di Dunia Berisiko Jadi Korban Banyak Bencana Iklim

CNN Indonesia
Rabu, 17 Jun 2026 03:03 WIB

Jakarta, CNN Indonesia —
Lebih dari 1 miliar anak menghadapi setidaknya tiga bencana iklim yang saling tumpang tindih. Hal ini disebutkan dalam laporan teranyar UNICEF yang dirilis Senin (15/6).
Dalam laporan tersebut, UNICEF melakukan referensi silang terhadap data yang menunjukkan sekitar 2,4 miliar anak di bumi tinggal dengan distribusi geografis dari delapan bencana iklim yang paling umum. Di antaranya banjir pesisir pantai, banjir sungai, kekeringan, badai tropis, gelombang panas, kebakaran hutan, dan badai pasir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Anak-anak adalah kelompok terdepan yang terkena dampak perubahan iklim,” ujar Kepala UNICEF Catherine Russel, melansir AFP.
Laporan ini berfokus pada 1,1 miliar anak yang menghadapi setidaknya tiga risiko. Kombinasi paling umum adalah kekeringan, panas ekstrem (di atas 35 derajat Celcius), dan gelombang panas.
Melansir AFP, kombinasi tersebut memengaruhi sekitar 296 juta anak, termasuk di antaranya di Nigeria, Pakistan, dan India. Jumlah ini meningkat tajam selama 20 tahun terakhir.
Sementara itu, hampir semua atau sekitar 2,3 miliar anak terkena setidaknya satu risiko. Sebanyak 2 miliar orang terkena setidaknya dua penyakit, sementara 364 juta orang terkena empat penyakit.
Dari 123 ribu anak yang terkena dampak tujuh atau lebih bahaya iklim, sekitar 46 ribu di antaranya berada di Myanmar.
Salah satu penulis laporan, Tom Slaymaker mengatakan, sulit untuk menentukan tempat terburuk bagi anak di dunia.
“Kami melihat beberapa titik rawan. Itu benar-benar terkonsentrasi di Afrika Sub-Sahara dan sebagian Asia Selatan,” ujarnya.
Di wilayah tersebut, lanjut Slaymaker, dampaknya sering diperparah oleh ketidakmampuan pemerintah untuk mengatasi bencana iklim.
Chad, misalnya, memiliki akses yang terbatas terhadap air, listrik, dan makanan. Laporan menyebut, lebih dari 95 persen anak di Chad terpapar setidaknya tiga bencana alam.
Kendati demikian, Slaymaker mengakui masih adanya keterbatasan dalam laporan tersebut. Pasalnya, hanya ada delapan risiko paling umum yang dibahas.
Anak-anak di belahan Bumi bagian utara tidak terpapar oleh bencana yang masuk dalam kategori. Slaymaker menduga, anak-anak di sana menghadapi ancaman lain yang tidak tercakup dalam laporan, seperti mencairnya gletser.
(asr)
Add

as a preferred
source on Google
Artikel terkait
Berita terbaru
JEC Dorong Pemeriksaan Mata untuk Tingkatkan Performa Pesepakbola
JEC menyoroti pentingnya kesehatan mata, dominansi silang, dan kemampuan membaca permainan untuk mendukung performa pesepakbola sejak usia dini.
Takluk dari Kendal Tornado FC, Coach Tavares Ambil Tanggung Jawab
Kekalahan yang menyakitkan harus diterima Persebaya saat mengawali kiprahnya di Grup G I.League Cup 2026/27. Di tengah hasil minor tersebut, Bernardo Tavares memilih mengambil...
Berpakaian Adat Khas Melayu, Kepala MAN 3 Bungo H. Haidir Hadiri Agenda Nasional di Masjid Istiqlal Jakarta
Jakarta — Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Bungo, H. Haidir, menghadiri rangkaian agenda kunjungan dan kegiatan formal tingkat nasional yang dipusatkan di Masjid...
Profil Jesus de Miguel, Jejak Karier Penyerang CD Tenerife yang Meninggal Dunia
Profil dan perjalanan karier Jesús de Miguel Alameda, penyerang CD Tenerife yang meninggal dunia pada usia 30 tahun.
