BANGKALAN, KOMPAS.com – Jalan terjal berbatu sejauh 9 kilometer menjadi rutinitas yang harus dilalui setiap hari oleh Meilina Alwi.
Perempuan 33 tahun itu rela menghabiskan waktu setiap hari untuk mengajar di sekolah swasta yang ada di pelosok Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
Motor matik berwarna putih menjadi saksi bisu perjuangan Meilina untuk mengajar puluhan siswa di kelas V SDI Al Balya Bangkalan. Dengan motor itu juga, perempuan yang akrab disapa Mey ini kerap bertemu sapi hingga ular di tengah jalan.
“Karena memang lokasinya di pelosok, jadi tiap berangkat atau pulang ngajar itu, di jalan selalu ketemu sapi, kambing, biawak kadang juga ular. Jadi kita harus berhenti dulu menunggu binatang itu lewat,” ujarnya, Selasa (25/11/2025).
Baca juga: Truk Boks Muatan Udang Terguling di Bangkalan Usai Ditabrak Innova, 4 Penumpang Luka-luka
Meski perjuangan menuju sekolah cukup melelahkan, namun semangat anak didiknya di sekolah itu turut membangkitkan semangatnya untuk memberikan ilmu di tengah keterbatasan.
Sekolah yang hanya memiliki tiga ruang kelas itu harus dibagi menjadi enam kelompok belajar. Setiap kelas, diberi sekat agar bisa ditempati siswa lebih banyak.
Baca juga: Perjuangan Guru SMPN di Surabaya Jemput Siswa ke Rumah, Kasih Uang Jajan agar Mau Sekolah
“Jadi gedung di sekolah kami itu ada kelas satu sampai kelas enam, tapi ruangannya hanya ada tiga. Jadi ya harus disekat. Itu pun di dalam kelas masih terlihat batu batanya,” ungkapnya.
Meski kondisi sekolahnya memiliki banyak keterbatasan, ia cukup betah di sekolah itu. Apalagi, para siswa masih sangat memegang teguh nilai sopan santun yang di zaman modern ini sudah mulai tergerus.
“Anak-anak di sini memiliki adab yang sangat baik. Sopan santunnya membuat saya kagum dan masyarakatnya juga guyub. Itu salah satu yang membuat saya betah,” tuturnya.
Mey mengaku, meski ia merupakan generasi muda, namun ia tetap memilih mengajar di pelosok desa. Sebab, ia cukup prihatin dengan keterbatasan akses pendidikan di desa.
Perempuan lulusan Universitas 17 Agustus Surabaya itu ingin terus menyalakan lentera ilmu pada anak didiknya agar siswa di desa tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.
“Di sana itu, akses sekolah negeri jauh. Jadi sekolah swasta tempat kami menjadi jujukan para siswa untuk belajar. Mereka sangat bersemangat dan rasa keingintahuannya tinggi,” ungkapnya.
Semangat itulah yang membuat Mey ingin terus meng-upgrade kemampuan dirinya. Sehingga, bisa terus memberikan ilmu yang terbaik untuk seluruh anak didiknya di tengah perkembangan zaman seperti saat ini.
Namun, perjuangan Mey selama 7 tahun ini tak sebanding dengan gaji yang ia terima. Tak hanya nilainya kecil, namun gaji tersebut diberikan setiap enam bulan sekali, menunggu dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) turun.
“Kalau untuk gaji Rp 400.000 per bulan. Memang kami di sekolah swasta, tapi kondisi swasta di desa dengan kota berbeda. Bahkan, gaji kami dibayar 6 bulan sekali setiap pencairan dana BOS. Jadi dirapel,” ungkapnya.