Dihantam Drama MSCI, Fed Tahan Bunga dan Asing Kabur: IHSG Bisa Bangkit?

  • Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam, rupiah menguat namun IHSG anjlok serta obligasi mengalami aksi jual
  • Wall Street beda arah menanggapi keputusan The Fed
  • Sentimen MSCI hingga Keputusan Suku Bunga The Fed diperkirakan akan menjadi penggerak pasar hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan Tanah Air kembali ditutup beragam pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam, namun rupiah justru mampu menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu bergerak positif pada perdagangan hari ini, Kamis (29/1/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pada perdagangan kemarin, Rabu (28/1/2026), IHSG anjlok hingga terkoreksi 7,35% ke level 8.320,56 atau turun 659,67 poin pada penutupan perdagangan. Bahkan pada level terendahnya IHSG sempat ambruk lebih dari 8% sehingga otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan perhentian perdagangan sementara (trading halt).

Nyaris seluruh saham yang aktif diperdagangkan berada di zona merah. Sebanyak 753 saham turun, 16 tidak bergerak, dan hanya 37 saham naik. Nilai transaksi tercatat jumbo mencapai Rp45,50 triliun, melibatkan 60,86 miliar saham dalam 3,99 juta kali transaksi.

Kapitalisasi pasar pun turun menjadi Rp15.121 triliun. Investor asing juga mencatatkan aksi jual cukup besar dengan total Rp6,17 triliun di seluruh pasar.

IHSG ambruk merespons pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes. MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia, meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari BEI.

Sejalan dengan itu, seluruh sektor di IHSG kompak melemah, dengan penurunan terbesar pada sektor infrastruktur yang terkoreksi 10,15%, disusul energi turun 8,99%, serta teknologi melemah 7,55%.

Dari sisi emiten, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi yang paling menekan IHSG setelah harganya terkoreksi 15% dan menyumbang 61,58 indeks poin.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turut menyeret IHSG dengan pelemahan 11,93% atau menyumbang 49,44 indeks poin. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga menambah tekanan dengan kontribusi 45,01 indeks poin, seiring koreksi harga 6,33%.

Beralih ke pasar valuta asing, nilai tukar rupiah justru berhasil melanjutkan penguatannya terhadap dolar AS di saat IHSG tengah terkoreksi tajam.

Mengacu data Refinitiv,mata uang Garuda ditutup di level Rp16.700/US$ atau menguat 0,36%. Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif rupiah menjadi enam hari perdagangan beruntun.

Sejak pagi, rupiah sudah bergerak di zona hijau. Rupiah dibuka menguat 0,30% di posisi Rp16.710/US$, lalu sepanjang sesi bergerak cukup lebar di kisaran Rp16.675-Rp16.740/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada saat penutupan rupiah, masih berada di zona pelemahan dengan turun 0,13% ke level 96,094. Tekanan pada dolar ini melanjutkan pelemahan tajam sesi sebelumnya, ketika DXY ditutup turun 0,85% ke 96,217 dan menjadi level terendahnya dalam sekitar empat tahun

Penguatan rupiah kemarin terutama ditopang sentimen eksternal, yakni pelemahan dolar AS di pasar global.

Dolar makin tertekan setelah Presiden AS Donald Trump dinilai “tidak terlalu khawatir” dengan pelemahan greenback, yang kemudian dibaca pasar sebagai sinyal bahwa pemerintah AS relatif nyaman dengan dolar yang lebih lemah.

Situasi ini memicu aksi jual dolar lebih lanjut dan mendorong penguatan mata uang lain termasuk emerging markets.

Tekanan pada dolar juga dipengaruhi ketidakpastian kebijakan di Washington, termasuk isu perdagangan dan hubungan luar negeri, kekhawatiran terhadap independensi Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), hingga spekulasi potensi koordinasi intervensi valuta asing AS-Jepang untuk menopang yen.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat kembali mengalami kenaikan walau tipis 0,05% ke level 6,367% pada perdagangan kemarin, dari 6,364% pada hari sebelumnya. Imbal hasil yang naik menandai harga SBN sedang turun karena dijual investor.

Read More

Baca Juga