Sunday, 1 November 2026

Terkini
Bola

Dirikan Klub Sepak Bola Amputasi PERSAS, Khusnul Yakin Wisuda di Umsura dan Raih Beasiswa S2 Hukum

Perjalanan Khusnul Yakin menuju panggung wisuda Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) bukanlah perjalanan yang mudah. Terlahir sebagai penyandang disabilitas tunadaksa

Sumber foto: Universitas Muhammadiyah Surabaya

Perjalanan Khusnul Yakin menuju panggung wisuda Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) bukanlah perjalanan yang mudah. Terlahir sebagai penyandang disabilitas tunadaksa, ia tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikan S1 Fakultas Hukum, tetapi juga mendirikan Persatuan Sepak Bola Amputasi Surabaya (PERSAS), sebuah komunitas yang membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi di bidang olahraga.

Dalam prosesi Wisuda ke-55 Umsura, Khusnul resmi menyandang gelar Sarjana Hukum. Pada kesempatan tersebut, Rektor Umsura juga memberikan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2) Hukum sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan dan pencapaiannya.

Pemberian beasiswa tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Umsura dalam membangun lingkungan pendidikan inklusif, yang memberikan kesempatan setara bagi mahasiswa penyandang disabilitas untuk mengakses pendidikan tinggi dan mengembangkan potensi akademiknya.

Di hadapan para wisudawan, dosen, pimpinan universitas, dan orang tua, Khusnul menceritakan perjalanan hidupnya. Ia terlahir dengan kondisi kaki kanan yang tumbuh tidak sempurna akibat infeksi toksoplasmosis. Namun, almarhum kedua orang tuanya tidak pernah membesarkannya dengan banyak larangan.

Sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, Khusnul menempuh pendidikan di sekolah umum. Pengalaman tersebut membentuk keyakinannya bahwa kondisi fisik tidak seharusnya menjadi penghalang seseorang untuk memperoleh pendidikan dan meraih cita-cita.

“Seorang penyandang disabilitas tidak harus berhenti pada keterbatasan fisik. Mereka tetap berhak memiliki cita-cita, mendapatkan pendidikan, bekerja, dan meraih masa depan yang mereka inginkan,” ungkapnya.

Berawal dari Kecintaan pada Sepak Bola, Dirikan PERSAS

Kecintaan Khusnul terhadap sepak bola telah tumbuh sejak kecil. Ia terbiasa bermain bersama teman-temannya di lingkungan tempat tinggal. Namun, ketika mulai mengenal komunitas disabilitas, muncul pertanyaan dalam dirinya mengenai kesempatan penyandang disabilitas untuk bermain sepak bola.

Ia kemudian mencari informasi melalui media sosial dan menemukan komunitas sepak bola amputasi di Jakarta dan Jember. Jarak yang cukup jauh membuatnya berpikir bahwa Surabaya sebagai kota besar juga seharusnya memiliki wadah serupa.

Kesempatan itu datang pada 2021 ketika Khusnul bergabung dengan klub sepak bola amputasi di Madura. Ia kemudian mengikuti turnamen sepak bola amputasi se-Jawa dan Bali di Jember. Dalam kejuaraan tersebut, timnya berhasil meraih juara.

Pengalaman itu semakin menguatkan keinginannya untuk membangun komunitas sepak bola amputasi di Surabaya. Sepulang dari Jember, ia mengajak sejumlah teman penyandang disabilitas untuk mewujudkan gagasan tersebut.

Pada 14 Februari 2022, Khusnul berhasil mendirikan Persatuan Sepak Bola Amputasi Surabaya atau PERSAS. Komunitas yang awalnya hanya beranggotakan enam orang itu menjadi ruang bagi penyandang disabilitas untuk berlatih, berkompetisi, dan membangun kepercayaan diri. Khusnul dipercaya menjadi koordinator.

Membangun komunitas tersebut bukan perkara mudah. Pada awal perjalanannya, dukungan terhadap sepak bola amputasi di Surabaya belum memadai. Meski demikian, Khusnul bersama rekan-rekannya terus berupaya membesarkan PERSAS agar semakin dikenal dan memberikan kesempatan lebih luas bagi penyandang disabilitas.

Dipanggil Timnas, tetapi Gagal Berangkat ke Piala Dunia

Di tengah perjuangannya membangun PERSAS, Khusnul mendapatkan kesempatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Pada 2022, ia mendapat panggilan untuk bergabung dengan Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia yang dipersiapkan tampil dalam Piala Dunia Sepak Bola Amputasi di Turkiye.

Namun, kesempatan membela Indonesia tersebut harus terhenti akibat cedera. Satu minggu sebelum keberangkatan, ketika mengikuti pemusatan latihan di Jakarta, lutut kaki kirinya mengalami cedera tendon.

Hasil pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) menunjukkan adanya masalah pada tendon lutut yang disertai pengapuran. Kondisi tersebut membuatnya tidak dapat melanjutkan persiapan menuju kejuaraan dunia.

Khusnul mengaku sangat terpukul. Persiapan selama tiga bulan harus berakhir dengan kekecewaan, terlebih kesempatan membela tanah air merupakan impian besar baginya.

Di tengah masa sulit itu, ia juga menghadapi persoalan keluarga. Sekitar tiga bulan setelah Piala Dunia berlangsung, sang ibu mengalami stroke. Meski dalam kondisi sakit, ibunya masih sempat menyaksikan kebahagiaan Khusnul ketika diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Umsura melalui beasiswa atlet.

Namun, beberapa hari setelah kabar penerimaan tersebut, sang ibu meninggal dunia.

Kehilangan kedua orang tua menjadi salah satu ujian terberat dalam hidupnya. Saat berdiri di panggung wisuda, Khusnul menyadari bahwa kedua sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya sudah tidak dapat mendampinginya secara langsung.

“Hari ini saya hadir tanpa kedua orang tua, tetapi saya yakin Mama dan Papa bangga melihat saya di sana. Terima kasih kepada istri, adik, dan tante saya yang terus memberikan dukungan,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan pesan kepada para wisudawan yang masih dapat didampingi kedua orang tua agar senantiasa bersyukur dan membanggakan keluarga.

Ingin Perluas Kesempatan bagi Penyandang Disabilitas

Setelah menyelesaikan pendidikan S1 Hukum dan memperoleh beasiswa S2 di Umsura, Khusnul ingin terus mengembangkan PERSAS. Baginya, komunitas yang didirikan bersama enam orang tersebut bukan sekadar wadah olahraga, melainkan ruang untuk membuka kesempatan dan membangun kepercayaan diri penyandang disabilitas.

Ia berharap suatu hari dapat menjadi pelatih PERSAS, mendampingi para pemain, serta membantu mereka menemukan potensi dan masa depan yang lebih baik.

Khusnul juga berharap pemerintah dan berbagai pihak semakin memberikan perhatian terhadap penyandang disabilitas, terutama dalam hal kesempatan kerja. Menurutnya, pendidikan yang telah ditempuh seharusnya dapat menjadi jalan bagi penyandang disabilitas untuk hidup mandiri dan berkontribusi di tengah masyarakat.

“Bagi kita semua yang kelak memiliki kesempatan lebih besar, jangan lupa membuka jalan bagi orang lain. Sebab, keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga dari seberapa banyak orang yang dapat kita ajak melangkah bersama,” pungkasnya.

Sumber: Universitas Muhammadiyah Surabaya. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *