Dimensi Berbeda Derbi Milan
Untuk pertama kalinya sejak 2010, derbi Milan mempertemukan dua pelatih asing. Pendekatan sabar Ruben Amorim ditantang gaya permainan ”direct” Cristian Chivu.

MILAN, SABTU — Laga Inter Milan kontra AC Milan, Minggu (1/11/2026) pukul 02.45 WIB menyuguhkan dimensi berbeda dibandingkan Derbi della Madonnina beberapa musim sebelumnya. Ini akan menjadi Derbi Milan pertama dalam 16 tahun terakhir yang mempertemukan dua pelatih asing. Selama ini Derbi Milan lebih sering diwarnai pelatih lokal lantaran klub-klub Serie A yang dikenal loyal dalam menggunakan jasa pelatih Italia.
Derbi Milan menjadi wadah pertemuan kompetitif pertama Cristian Chivu dan Ruben Amorim. Kedua pelatih sebelumnya sudah pernah berhadapan pada laga persahabatan pramusim di Australia. Tekanan serta tensi laga tentunya berbeda dengan derbi yang dimainkan secara langsung di Stadion Giuseppe Meazza, tanah kelahiran dua klub asal kota mode tersebut.
Pertemuan Chivu dan Amorim menjadi unik karena ini merupakan kali pertama Derbi Milan melibatkan pelatih asing sejak 2010. Momen pelatih asing terakhir pada Derbi Milan mempertemukan Jose Mourinho yang kala itu melatih Inter dengan Leonardo di kubu Milan. Setelah itu, Derbi Milan lebih sering diwarnai duel ide pelatih lokal seperti Simone Inzaghi, Massimiliano Allegri, dan Stefano Pioli.
Chivu dan Amorim akan memberi kesan yang berbeda dengan derbi sebelumnya. Kedua pelatih memiliki pendekatan bermain yang cukup kontras. Amorim mengutamakan penguasaan bola, pembangunan serangan dari belakang, dan pergerakan dua pemain di belakang penyerang untuk mencari ruang antarlini.
Ia juga termasuk fleksibel mengubah formasi tiga bek menjadi empat bek sesuai kebutuhan pertandingan. Bagi pelatih asal Portugal itu, dominasi permainan juga bertujuan mengatur ritme pertandingan agar lawan kesulitan mengembangkan permainan.
Sementara Chivu banyak terpengaruh filosofi kepelatihan Italia. Pelatih asal Rumania itu cukup konsisten menggunakan pendekatan tiga bek dalam formasi 3-5-2.
Chivu juga kerap mengandalkan bola-bola direct atau serangan vertikal yang mengalirkan bola secara cepat ke depan untuk menembus pertahanan lawan. Dalam bertahan, Inter menerapkan tekanan cepat dan garis pertahanan tinggi untuk mempersempit ruang permainan lawan.
“Kami tahu kekuatan Milan dan bagaimana mereka bisa membahayakan kami. Mereka tim yang bagus secara teknis. Kami harus siap untuk menjaga kekompakan dan melakukan penjagaan secara mendalam,” kata Chivu dikutip dari SempreInter.
Absennya Lautaro Martinez diprediksi memberi dampak yang cukup besar dalam keseimbangan Inter dalam menyerang. Penyerang berpaspor Argentina itu membantu menghubungkan permainan, menerima umpan, dan mempertahankan penguasaan bola di dekat pertahanan lawan.
Ketika penyerang seperti Lautaro bisa menjaga bola, gelandang memperoleh waktu untuk maju dan menawarkan pilihan umpan. Duet Marcus Thuram dan Bonny belum memberikan fungsi penghubung yang cukup baik dalam beberapa laga terakhir. Akibatnya, serangan Inter lebih mudah terputus sebelum seluruh pemain pendukung berada dalam posisi yang tepat.
Di sisi lain Milan juga memiliki kelemahan dalam mempertahankan kestabilan permainan. Sejauh ini Milan sudah kebobolan 11 gol. Delapan dari 11 gol itu terjadi pada babak kedua. Amorim juga mengakui para pemainnya rentan kehilangan ketenangan dan meninggalkan posisi semestinya ketika lawan unggul.
Implikasinya, Milan perlu menjaga jarak antarpemain dan disiplin menjalankan tugas sepanjang pertandingan. Ketika stamina berkurang, struktur yang rapat membantu membatasi ruang lawan sekaligus mengurangi kebutuhan mengejar bola terlalu jauh.
Situasi itu perlu diwaspadai mengingat lini serang Inter yang sedang sulit dihentikan setelah tidak pernah gagal mencetak gol dalam 19 pertandingan Serie A terakhir. Capaian itu menjadi rekor terpanjang di antara tim-tim yang saat ini berada di kasta tertinggi.
Di saat serangan Inter berpeluang besar mudah terputus akibat absennya Lautaro, Milan kemungkinan akan segera menyerang setelah merebut bola. Pada laga sebelumnya kontra Venezia, Inter terlihat rapuh lantaran enam kali terancam situasi berbahaya dari serangan kilat lawan.
Situasi itu wajib dimanfaatkan Milan yang punya deretan pemain cepat dan terampil seperti Christian Pulisic dan Diego Moreira. Mereka diharapkan mampu mempercepat tempo permainan melalui umpan singkat maupun pergerakan menembus pertahanan.
“Kami mengontrol pertandingan dengan baik, tetapi kami bermain terlalu jauh dari gawang lawan. Kami perlu menekan lebih tinggi di lapangan dan menghabiskan lebih banyak waktu di sepertiga akhir lawan,” ujar Amorim di laman resmi Milan.
Sumber: Kompas.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Pakar Soal Gibran Usai Putusan MA: Mundur atau Dimakzulkan
Pakar Soal Gibran Usai Putusan MA: Mundur atau Dimakzulkan
Der Klassiker Bayern Vs Dortmund: Kompany Dilarang Bicara Sepak Bola
Pelatih Bayern, Vincent Kompany, masih menjalani pemulihan setelah pingsan dan dirawat di rumah sakit pekan lalu.
Wabup Tubaba Sampaikan Harapan untuk Wakil Bupati Way Kanan
Wakil Bupati Tulang Bawang Barat (Tubaba), Nadirsyah, menghadiri pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan Wakil Bupati Way Kanan untuk sisa masa jabatan 2025–2030 di Balai...
3 Santriwati Pesantren Agribisnis Muhammadiyah Raih Juara 2 Santrivision 2026 Tingkat Nasional
JAKARTA — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh generasi muda Kabupaten Bengkalis di tingkat nasional. Tiga santriwati Pondok Pesantren Agribisnis Muhammadiyah Nawawi
