Friday, 30 October 2026

Terkini
Timur Tengah

Harga Minyak Brent Naik 1,8 Persen di Tengah Ketegangan AS Iran

Harga minyak Brent naik 1,8 persen menjadi US$ 115,18 per barel dan WTI menguat 2 persen di tengah kekhawatiran serangan baru AS terhadap Iran.

Harga minyak mentah dunia menguat setelah ekspektasi investor meningkat bahwa Amerika Serikat (AS) akan kembali menyerang Iran dalam beberapa pekan mendatang. Dilansir dari Detik Finance, Jumat (23/10/2026), kenaikan terjadi pada kontrak berjangka Brent dan West Texas Intermediate (WTI) di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Harga minyak Brent untuk kontrak bulan terdekat naik 1,8 persen menjadi US$ 115,18 per barel. Sementara itu, minyak mentah WTI menguat 2 persen menjadi US$ 101,56 per barel.

Menurut data perdagangan yang dilaporkan CNBC, Brent diperkirakan mencatat kenaikan mingguan sekitar 5 persen dan menuju penguatan selama tiga pekan berturut-turut. Adapun WTI diperkirakan naik tipis 0,3 persen dalam sepekan.

Ketidakpastian hubungan Washington dan Teheran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor. Presiden AS Donald Trump pada Rabu menyatakan bahwa negaranya tidak sedang bernegosiasi dengan Iran dan mengisyaratkan perkembangan dalam waktu dekat.

"Sesuatu akan terjadi dalam waktu dekat," kata Donald Trump, Presiden AS.

Pernyataan tersebut muncul setelah sejumlah pejabat AS mengatakan kepada The New York Times bahwa AS dan Israel telah menyiapkan rencana serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan umum paruh waktu AS.

Di tengah ketegangan tersebut, Kepala Staf Angkatan Darat Iran menyatakan bahwa militernya telah siap sepenuhnya menghadapi perang asimetris setelah memperkuat kemampuan pertahanan. Pernyataan itu dilaporkan oleh kantor berita pemerintah Iran, Tasnim.

Situasi keamanan kawasan juga memburuk akibat serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap Arab Saudi. Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan personel yang tidak menjalankan tugas penting untuk meninggalkan negara tersebut sebagai respons terhadap ancaman serangan.

Media pemerintah Arab Saudi melaporkan bahwa serangan pesawat nirawak yang menyasar ladang minyak Shaybah di wilayah timur negara itu pada Rabu menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya.

Serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam juga mengakibatkan sedikitnya dua orang tewas dan delapan lainnya terluka, menurut laporan yang dikutip dalam pemberitaan tersebut.

Perusahaan minyak Saudi Aramco turut mengambil langkah pengamanan dengan meminta karyawan meninggalkan kantor pusatnya di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh. Kebijakan itu diterapkan menyusul serangkaian serangan yang dilakukan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Perkembangan keamanan di Timur Tengah terus menjadi perhatian pasar energi karena kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik AS dan Iran berlangsung bersamaan dengan serangan terhadap wilayah Arab Saudi.

Sumber: SuaraGarut.ID. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *