Friday, 30 October 2026

Terkini
Timur Tengah

Rupiah Melemah, Harga Minyak Makin Panas Imbas Konflik Timur Tengah

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp18.046 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Tekanan terhadap mata...

Sumber foto: Holopis.com

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp18.046 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Tekanan terhadap mata uang Indonesia terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 24 poin atau 0,13 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini berlangsung ketika pasar global mencermati perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasokan minyak dan stabilitas ekonomi dunia.

Ketegangan meningkat setelah serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah target di Arab Saudi. Situasi tersebut mendorong pemerintah Amerika Serikat memerintahkan sejumlah diplomat dan anggota keluarga mereka meninggalkan misi diplomatik di negara tersebut.

Perkembangan itu turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, salah satu wilayah penting dalam perdagangan energi global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik 1,2 persen menjadi US$110,11 per barel pada pukul 00.34 GMT.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 1 persen menjadi US$98,12 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan biaya impor energi dan menambah tekanan terhadap negara yang membutuhkan pasokan minyak dari luar negeri.

Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi kebutuhan devisa untuk impor energi serta persepsi investor terhadap perekonomian domestik.

Meski demikian, pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak, tetapi juga sentimen pasar keuangan global dan pergerakan modal asing.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat, serta sentimen investor asing di pasar saham.

“Perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham,” kata Destry dalam konferensi pers, Rabu (21/10/2026).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah berlangsung di tengah kombinasi risiko eksternal dan dinamika pasar keuangan domestik.

Selain ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter AS, sentimen investor asing juga menjadi perhatian menyusul rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Perkembangan terkait MSCI berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap pasar saham Indonesia, terutama dalam mempertimbangkan aksesibilitas, transparansi, dan kelayakan investasi.

Dengan tekanan dari pasar energi dan keuangan global, pergerakan rupiah selanjutnya akan menjadi perhatian pelaku pasar. Perkembangan geopolitik, harga minyak dunia, arah kebijakan moneter AS, serta arus modal asing menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati dalam menilai prospek nilai tukar rupiah.

Sumber: Holopis.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *