Saturday, 31 October 2026

Terkini
Bola

Selamat Datang Kembali Liga Sepak Bola Putri

Setelah penantian yang tak lepas dengan kekecewaan, liga sepak bola putri bergulir lagi. Laga pembuka sengit dan antusiasme penonton jadi ucapan selamat datang.

Sumber foto: Kompas.id

Saat kakinya menginjakkan rumput Stadion Madya kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (18/10/2026) pagi, Alleana Ayu Arumy (16) berteriak. Dengan berteriak, kiper Persita Tangerang Women ingin melepaskan tekanan sekaligus mencoba merasakan euforia bisa berlaga di liga sepak bola putri untuk pertama kalinya.

Alleana memang berpengalaman bermain di sejumlah turnamen, dari level klub maupun timnas. Namun, bermain di liga sepak bola putri yang bertajuk ”Indonesia Women’s League 2026” tetap terasa berbeda. Terlebih, banyak orang menanti kehadiran kompetisi tersebut setelah sembilan tahun lamanya.

Debut Alleana di kompetisi sepak bola putri level tertinggi ini berjalan mulus. Kendati digempur Garudayaksa FC Women hingga total sembilan tembakan tepat sasaran, Alleana mampu menjaga gawangnya nirbobol dan meraih kemenangan 1-0. Duel sengit Persita versus Garudayaksa sekaligus menandai kembalinya liga sepak bola putri di Indonesia.

”Lihat stadion, ada banyak yang dukung juga meskipun pagi-pagi, senang. Ini juga kesempatan buat aku menampikan yang terbaik di liga pertama kali, dan ingin lebih baik lagi,” ujar pemain yang dinobakan sebagai woman of the match.

Jam memang baru menunjukkan pukul 07.30 ketika pertandingan digelar. Namun, para penonton sudah berdatangan bahkan sebelum laga dimulai. Ada keluarga pemain, ada rekan pemain di daerah, ada pula penggemar sepak bola. Secara jumlah memang tidak banyak, tetapi mereka ”berisik”.

Ketika laga dimulai, mereka menyorakkan dukungan. Berkali-kali para penonton berteriak ketika Garudayaksa, yang didominasi pemain dengan pengalaman di timnas senior, menyerang dan mengancam gawang Persita. Berkali-kali pula penonton lain lega saat Persita mampu disiplin bertahan dan pada akhirnya mencetak gol kemenangan lewat Diana Annisa Rahmawati menjelang laga berakhir.

Debby Alvani Zanaya (17) dan Savaira Rizqin (16) sengaja datang dari Tangerang Selatan untuk mendukung pemain Persita, Jimbaran Jihan. Mereka bahkan membawa poster bertuliskan rekannya saat bermain di klub Putri Tangsel City itu.

Sebagai pesepak bola putri belia, Debby dan Savair turut merasakan kegembiraan karena liga putri bergulir lagi. Mereka pun tidak sabar untuk bisa mendapatkan kesempatan bermain juga di kompetisi tersebut.

Indonesia Women’s League mengakhiri penantian para pemain senior yang berpengalaman bermain di Liga 1 Putri 2019 dan pemain-pemain muda yang butuh wadah unjuk gigi. Setelah Liga 1 Putri 2019 rampung dengan Persib Putri keluar sebagai juara, kompetisi sepak bola putri mati suri.

Jauh sebelum ada Liga 1 Putri 2019, Indonesia sebenarnya pernah punya Invitasi Liga Sepak Bola Wanita (Galanita) yang diikuti sembilan tim pada 1982. Namun, kepengurusan Galanita bubar pada 1993.

Setelah Liga 1 Putri 2019, kompetisi itu tidak dilanjutkan akibat pandemi. Pada 2021, ketika tiga kasta kompetisi sepak bola putra dan kompetisi yunior telah dijalankan, Liga 1 Putri tetap tidak bergulir.

Harapan berkali-kali muncul, tetapi berkali-kali pula berujung kekecewaan. Salah satunya ketika Ketua Umum PSSI Erick Thohir, pada September 2024, sempat menargetkan liga putri diputuskan secara resmi pada Kongres Biasa PSSI 2025.

Keputusan resmi demi memberikan legalitas secara administrasi untuk dimulainya persiapan penyelenggaraan liga putri 2026-2027. Namun, pada Kongres Biasa 2025, hanya ada tiga keputusan yang dihasilkan dan semuanya tidak berkaitan dengan liga putri.

Erick kemudian menyebut liga sepak bola putri digelar pada 2027. Bahkan, setelah kegagalan timnas putri Indonesia ke Piala Asia 2026 dan ditanya lagi soal perhelatan liga, Erick mengaku tidak takut tekanan. Semua pihak dimintanya tetap bersabar menanti kompetisi tersebut.

Sebelumnya, Erick menuturkan, liga tidak bisa digelar 2026 karena menurut studi, kolam talentanya belum cukup. Saat Kompas bertanya butuh berapa banyak pemain untuk bisa menggelar liga, Erick menjawab, butuh 30 pemain untuk masing-masing 8 klub. Artinya, total 240 pemain.

Jika terkendala minimnya peserta, Sekretaris Jenderal Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia Souraiya Farina pernah mengusulkan membuka peluang bagi klub homogen, hanya berisi tim putri, untuk jadi peserta. Klub-klub ini punya struktur, akta, dan badan hukum jelas dan bisa didorong jadi klub profesional.

Pada akhirnya, liga sepak bola putri digelar dengan enam klub peserta dari Jabodetabek. Selain Persita dan Garudayaksa, kompetisi ini diikuti Persija Jakarta Women, FC Bekasi City Women, Persikad Depok Women, dan Dewa United Women.

Kompetisi ini akan digelar selama 15 pekan hingga Januari 2027 untuk babak reguler. Setiap pekannya akan ada tiga laga yang digelar di Stadion Madya, Jakarta; Stadion Indomilk Arena di Tangerang; Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi; dan Stadion Pakansari, Bogor.

Pada pekan pertama di Stadion Madya, setelah laga Persita versus Garudayaksa, Persikad Women akan menghadapi Dewa United FC Women pada pukul 15.00. Selanjutnya, Persija Jakarta Women akan bertarung melawan FC Bekasi City Women pada 19.30.

Kendati asal klub ataupun lokasi pertandingan terkonsentrasi di Jabodetabek, pemain bisa didatangkan dari mana pun. PSSI dan operator kompetisi, i-League, juga membolehkan pelibatan maksimal empat pemain asing tiap tim.

Adapun duel Persita versus Garudayaksa menarik bukan hanya karena menandai kembalinya liga sepak bola putri, tetapi juga karena mempertontonkan talenta lokal. Dua tim ini sama-sama tidak diperkuat pemain asing.

Fakta itu pula yang membuat Ellen Tria Ferlika, kapten Garudayaksa FC Women, tetap bangga bisa bermain di Indonesia Women’s League meski hasil akhir belum sesuai ekspektasi. ”Ini pertandingan cukup panas, karena ini kasta paling tinggi di Indonesia. Teman-teman semangat semua meski enggak ada pemain asing. Kami menunjukkan bahwa ini liganya Indonesia, semua ingin bersaing, semua pemain layak bersaing hingga timnas,” ucap Ellen.

Sementara itu, Pelatih Persita Febriardie Bobihoe begitu bangga dengan semangat juang anak-anak asuhnya. Padahal, sepanjang laga, Garudayaksa FC Women mendominasi pertandingan dengan penguasaan bola 54 persen dan melepaskan total 18 tembakan yang 9 di antaranya mengarah ke gawang. Berbanding dengan upaya Persita yang hanya melepaskan 8 tembakan dengan 4 tepat sasaran.

”Tanpa pemain-pemain bintang, tanpa pemain asing, mereka bisa menunjukkan dengan kerja keras, kami sama-sama akhirnya bisa dapat hasil maksimal,” tutur Febriardie.

Setelah penantian panjang dan harapan yang kerap berujung kekecewaan, liga sepak bola putri bergulir lagi. Duel sengit laga pembuka dan antusiasme penonton jadi ucapan selamat datang.

Sumber: Kompas.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *