Rafael Benitez Ungkap Masalah Struktural Sepak Bola Italia
Rafael Benitez menyoroti masalah struktural, pembinaan pemain muda, dan melemahnya pertahanan Italia setelah klub-klubnya meraih hasil buruk di Liga Champions.

Bsinews.id, Jakarta, Kesulitan klub-klub Italia di Liga Champions 2026-2027 kembali menyoroti persoalan mendasar dalam sepak bola negara tersebut. Rafael Benitez, mantan pelatih Napoli dan Inter Milan, menilai masalahnya tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan, tetapi juga mencakup struktur klub, pembinaan pemain muda, dan karakter pertahanan. Dikutip dari Bola, pandangan itu disampaikan setelah sejumlah wakil Italia mengalami kekalahan pada matchday kedua.
Pada pertandingan yang berlangsung Selasa (13/10/2026) dan Rabu (14/10/2026), Inter Milan kalah dari Club Brugge, AS Roma takluk dari Real Madrid, Napoli menyerah kepada Villarreal, sedangkan Como 1907 tumbang saat menghadapi Feyenoord.
Hasil tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan matchday pertama. Ketika itu, Como 1907 meraih tiga poin atas RB Leipzig dan AS Roma bermain imbang melawan Fenerbahce. Inter Milan dan Napoli juga sudah menelan kekalahan dari Real Madrid dan Arsenal.
Menurut Benitez, kesulitan klub Italia di kompetisi Eropa perlu dilihat bersama persoalan yang lebih luas. Ia turut menyinggung kegagalan tim nasional Italia lolos ke tiga edisi Piala Dunia secara beruntun sebagai salah satu tanda bahwa pembenahan diperlukan.
Benitez menilai terdapat beberapa aspek berbeda yang harus diperhatikan, mulai dari pengelolaan klub hingga sistem yang mendukung perkembangan pemain. Ia juga berpandangan bahwa Italia sebenarnya masih mempunyai persediaan talenta yang memadai.
Dalam keterangannya, Benitez mengatakan, "Mereka sedang kesulitan, seperti yang terlihat dari absennya Italia di tiga Piala Dunia, namun ada berbagai masalah lain yang perlu ditangani,"
Ia kemudian menjelaskan bahwa persoalan tersebut melibatkan keputusan dan investasi klub serta pengembangan tim nasional. Ketersediaan pemain muda dan sistem pembinaan juga menjadi bagian dari hal-hal yang menurutnya perlu mendapat perhatian.
"Di satu sisi, ada klub-klub, serta keputusan dan investasi yang mereka buat. Di sisi lain, ada tim nasional, sistem pembinaan pemain muda, dan ketersediaan talenta yang menurut saya sebenarnya tidak kurang," imbuhnya.
Selain persoalan organisasi dan pengembangan pemain, Benitez menyoroti perubahan dalam cara tim-tim Italia mempertahankan gawangnya. Menurut dia, kemampuan bertahan dengan disiplin merupakan bagian penting dari identitas sepak bola Italia yang pernah membantu negara tersebut meraih dominasi dalam kompetisi internasional.
Benitez juga menyatakan kesepakatannya dengan pandangan Massimiliano Allegri mengenai persoalan pertahanan tersebut. Ia mengingat kembali pendapat yang menurutnya pernah disampaikan pula oleh Capello.
"Saya merenungkan sesuatu yang dikatakan Allegri, yang menurut saya juga pernah disampaikan oleh Capello dan saya setuju," kata Benitez.
Ia menilai perubahan itu membuat sepak bola Italia menjauh dari salah satu karakter permainan yang sebelumnya dikenal kuat. Benitez menegaskan bahwa kemampuan menjaga pertahanan bukan sekadar unsur teknis, melainkan juga bagian dari tradisi sepak bola negara tersebut.
"Italia telah kehilangan kemampuan untuk bertahan, yang merupakan salah satu ciri khas budaya sepak bola mereka yang sempat mendominasi dalam waktu yang lama," tuturnya.
Penilaian Benitez tidak berarti Italia kekurangan pemain berkualitas di sektor pertahanan. Ia justru menunjuk beberapa nama yang dinilainya mempunyai kemampuan tinggi, yakni Gianluigi Donnarumma, Riccardo Calafiori, Alessandro Bastoni, dan Federico Dimarco.
Donnarumma mendapat penilaian khusus dari Benitez karena kualitasnya sebagai penjaga gawang. Sementara itu, Calafiori menjadi pemain penting di Arsenal, Bastoni berperan sebagai salah satu pilar pertahanan Inter Milan, dan Dimarco dikenal mampu mendukung serangan dari posisi bek sayap.
"Padahal, mereka memiliki pemain-pemain kelas atas di lini belakang. Donnarumma mungkin adalah kiper terbaik di dunia," ujar Benitez.
Benitez turut menjelaskan peran tiga pemain lainnya dalam mendukung permainan klub masing-masing. Menurut dia, kualitas individu mereka memperlihatkan bahwa Italia masih memiliki sumber daya pemain yang dapat diandalkan.
"Calafiori merupakan pemain inti di Arsenal, Bastoni menjadi pilar penting di Inter, dan Dimarco adalah bek sayap yang mampu merepotkan lawan saat ia maju membantu serangan," imbuhnya.
Dengan adanya pemain-pemain tersebut, Benitez menempatkan persoalan sepak bola Italia pada aspek yang lebih luas daripada sekadar kualitas individu. Pembenahan pengelolaan klub, peningkatan sistem pembinaan pemain muda, dan pemulihan kekuatan pertahanan menjadi tiga hal yang disorot dalam pandangannya mengenai kesulitan wakil Italia di Liga Champions.
Sumber: bsinews.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Cek Syarat, Jadwal, dan Cara Pendaftaran Mendapatkan Beasiswa Cendekia BAZNAS 2026
Cek Syarat, Jadwal, dan Cara Pendaftaran Mendapatkan Beasiswa Cendekia BAZNAS 2026
Super League -Persebaya bermain imbang 1-1 lawan Persijap
Pesepakbola Persebaya Surabaya Miguel Pereira (kiri) dihadang oleh pemain Persijap Jepara Zidane Pramudya (kedua kiri) saat laga pekan kedelapan BRI Super ...
Carrick Tegaskan Manchester United Haus Kemenangan jelang Hadapi Chelsea
Pelatih Manchester United Michael Carrick menegaskan timnya haus kemenangan menjelang lawatan ke markas Chelsea, Sabtu, 31 Oktober 2026 malam WIB. Setan Merah membutuhkan hasil...
Sundulan Mitrevski Selamatkan Persebaya dari Kekalahan
Risto Mitrevski menyelamatkan Persebaya dari kekalahan saat menghadapi Persijap Jepara. Laga pekan kedelapan Super League berakhir imbang 1-1.
