Evolusi Peran ala Label Wonderkid Halaman 1
Sebenarnya, seleksi alam pada wonderkid sudah terjadi sejak dulu

Dalam sepak bola, kehadiran pemain muda potensial selalu membawa harapan. Harapan itu kadang berkembang jadi hype, ketika si pemain sampai mendapat label wonderkid, karena dinilai punya bakat diatas rata-rata.
Label ini memang bukan jaminan seorang pemain otomatis bisa menjadi bintang. Ada beragam faktor, yang turut menentukan, apakah seorang wonderkid benar-benar bisa menjadi bintang, atau malah layu sebelum berkembang.
Karena itulah, dibalik contoh sukses seperti Lionel Messi dan Lamine Yamal, terselip juga banyak cerita wonderkid yang layu sebelum berkembang.
Faktornya pun beragam. Ada yang punya masalah cedera, ada yang performanya inkonsisten, dan ada juga yang punya masalah disipliner.
Tapi, jika dilihat lagi dalam sudut pandang era kekinian, wonderkid lama kelamaan berkembang menjadi sebuah label seleksi alam. Dalam artian, apa yang tadinya jadi satu pujian dan harapan, mulai bergeser menjadi satu penguji, seberapa bagus kualitas di balik talenta.
Sebagai contoh, dalam beberapa tahun terakhir, akademi Manchester United menjumpai dua wonderkid bermasalah dalam diri Alejandro Garnacho dan JJ Gabriel. Keduanya sama-sama bersinar di akademi MU, dan mendapat label wonderkid.
Garnacho, yang membantu United juara Piala FA junior tahun 2022, awalnya terlihat menjanjikan saat naik ke tim utama. Gelar Piala FA dan Carabao Cup mampu diraih, bersama penghargaan FIFA Puskas Award tahun 2024 dan Goal of The Season di Liga Inggris musim 2023-2024.
Karena perkembangan yang terbilang pesat, pemain yang mengidolakan Cristiano Ronaldo ini juga dipanggil ke Timnas Argentina di ajang Copa America 2024, yang pada akhirnya dimenangkan Argentina.
Awalnya, semua terlihat menjanjikan. Tapi, semua prestasi beruntun ternyata membuat sang pemain jadi silau.
Alhasil, meski akhirnya bisa pindah ke Chelsea di musim panas 2025, jebolan akademi Atletico Madrid ini menjalani periode sulit di sana, sehingga harus dipinjamkan ke Aston Villa, dengan menit bermain relatif terbatas. Di usia 22 tahun, seorang pemain yang awalnya terlihat menjanjikan, justru terlunta-lunta saat harusnya bisa berkembang.
Ironisnya, pada saat bersamaan, Kobie Mainoo, rekan seangkatan Garnacho di akademi Manchester United, pelan-pelan berkembang menjadi satu pemain penting tim utama, bahkan mendapat panggilan Timnas Inggris di Euro 2024 dan Piala Dunia 2026.
Setelah Garnacho, akademi Setan Merah sebenarnya punya JJ Gabriel, yang cukup mencuat, karena rajin mencetak gol dan dinilai punya prospek cerah. Pemain kelahiran tahun 2010 ini bahkan mendapat julukan "Kid Messi", karena dinilai punya kemampuan individu istimewa.
Pemain bernama asli Joseph Junior Andreou O'Cearuill ini bahkan sudah ikut dalam tur pramusim United, dan mencatat debut tak resmi di laga pramusim tim senior. Untuk ukuran pemain yang sebelumnya bermain di level U-18, ini adalah satu lompatan besar.
Tapi, keputusannya menolak bermain di tim U-21 usai pramusim, ditambah pandangan keluarga, yang menilai bakat sang pemain setara Lionel Messi, langsung menghasilkan satu saga menarik.
Entah memang percaya diri atau terlanjur silau dengan hype yang mengelilinginya, perwakilan JJ Gabriel langsung meminta kontrak dengan gaji 1 juta euro (sekitar 840 ribu pounds) per tahun, atau sekitar 16-19 ribu pounds per pekan, dengan bonus rekrutmen antara 8-12,5 juta pounds.
Sumber: Kompasiana.com. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Cek Syarat, Jadwal, dan Cara Pendaftaran Mendapatkan Beasiswa Cendekia BAZNAS 2026
Cek Syarat, Jadwal, dan Cara Pendaftaran Mendapatkan Beasiswa Cendekia BAZNAS 2026
Super League -Persebaya bermain imbang 1-1 lawan Persijap
Pesepakbola Persebaya Surabaya Miguel Pereira (kiri) dihadang oleh pemain Persijap Jepara Zidane Pramudya (kedua kiri) saat laga pekan kedelapan BRI Super ...
Carrick Tegaskan Manchester United Haus Kemenangan jelang Hadapi Chelsea
Pelatih Manchester United Michael Carrick menegaskan timnya haus kemenangan menjelang lawatan ke markas Chelsea, Sabtu, 31 Oktober 2026 malam WIB. Setan Merah membutuhkan hasil...
Sundulan Mitrevski Selamatkan Persebaya dari Kekalahan
Risto Mitrevski menyelamatkan Persebaya dari kekalahan saat menghadapi Persijap Jepara. Laga pekan kedelapan Super League berakhir imbang 1-1.
