Friday, 30 October 2026

Terkini
Timur Tengah

Harga Minyak Dunia Naik di Tengah Risiko Pasokan Timur Tengah

Harga minyak WTI naik lebih dari 6 persen sepekan, sementara ancaman gangguan pasokan Timur Tengah dan penurunan stok AS menekan pasar energi.

Sumber foto: SuaraGarut.ID

Harga minyak dunia menguat pada Jumat (16/10/2026) karena pelaku pasar mengkhawatirkan gangguan pasokan dari Timur Tengah, terutama di jalur pelayaran Selat Hormuz. Menurut laporan Money yang mengutip Bloomberg, kenaikan ini berlangsung di tengah rencana pelepasan cadangan minyak darurat dan penurunan persediaan minyak Amerika Serikat. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di bawah 98 dollar AS per barel setelah melonjak 3 persen pada Kamis (15/10/2026).

Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup di kisaran 106 dollar AS per barel, menurut laporan tersebut. Kekhawatiran pasokan meningkat setelah Komando Pusat Amerika Serikat mengonfirmasi pada Kamis bahwa sebuah kapal kontainer yang tenggelam di Selat Hormuz terkena proyektil Iran. Peristiwa itu menambah ketidakpastian mengenai pemulihan arus pengiriman minyak melalui Teluk Persia, salah satu jalur distribusi energi utama dunia.

Sepanjang pekan ini, harga WTI telah naik lebih dari 6 persen, melampaui kenaikan Brent dan mempersempit selisih harga kedua acuan minyak mentah tersebut. Penurunan biaya pengiriman minyak mentah dari Amerika Serikat turut mendukung penguatan WTI.

Data Baltic Exchange di London menunjukkan biaya pengangkutan satu kargo minyak mentah dari Pantai Teluk AS menuju Rotterdam, Belanda, turun sekitar 12 persen dalam sepekan terakhir. Perubahan biaya transportasi tersebut memengaruhi daya saing minyak mentah Amerika Serikat di pasar internasional. Di sisi pasokan, negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) berkomitmen menuntaskan pelepasan sisa 100 juta barel minyak dari intervensi yang dilakukan pada Maret 2026. Komitmen itu muncul setelah pejabat Amerika Serikat melobi negara-negara anggota agar menyelesaikan pelepasan cadangan darurat.

Cadangan tersebut ditujukan untuk membantu menjaga ketersediaan minyak ketika terjadi gangguan besar di pasar energi. Namun, ketidakpastian konflik Timur Tengah masih membayangi prospek pasokan global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya menekan harga bensin dan solar di dalam negeri. Kenaikan biaya energi yang berkaitan dengan perang AS melawan Iran juga menjadi perhatian pemilih menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung bulan depan.

Analis Eurasia Group menaikkan perkiraan probabilitas eskalasi konflik menjadi 65 persen, dari sebelumnya 35 persen. Penilaian tersebut mencerminkan meningkatnya risiko konflik yang dapat memperburuk gangguan distribusi minyak. Dalam catatan analisisnya, Eurasia Group menyatakan, "Konflik kemungkinan akan meningkat," tulis para analis Eurasia Group.

Para analis juga menilai kebuntuan yang berlangsung saat ini semakin sulit dipertahankan oleh Amerika Serikat. Mereka menulis, "situasi kebuntuan saat ini tidak lagi dapat dipertahankan bagi AS."

Dari Amerika Serikat, Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah komersial turun 8,6 juta barel pada pekan lalu. Penurunan itu menjadi yang terbesar sejak Februari 2026.

Menurut EIA, penyusutan stok sebagian dipengaruhi penghentian sementara produksi akibat Badai Isaias. Aktivitas kilang yang tinggi dan peningkatan ekspor juga berkontribusi terhadap penurunan persediaan. Persediaan produk distilat, termasuk solar dan minyak pemanas, turut berkurang 2,5 juta barel. Jumlahnya mencapai tingkat terendah untuk periode yang sama berdasarkan pola musiman, menambah perhatian pasar terhadap kondisi pasokan energi Amerika Serikat.

Sumber: SuaraGarut.ID. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *