Naskah Khutbah Jumat: Migrasi Amal

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh KH Imam Nur Suharno, Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah, Kuningan Jawa Barat
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Mengawali khutbah Jum’at ini, marilah kita senantiasa mengingat akan segala anugerah yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada kita. Untuk kemudian kita syukuri dan gunakan di jalan kebaikan serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Pada kesempatan ini, khatib mengajak kepada seluruh jama’ah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Suatu hari, Abu Bakar As-Shiddiq bersama Nabi Muhammad SAW. Di tengah perjalanan, tiba-tiba Abu Bakar diadang oleh seseorang dan dicaci-maki. Abu Bakar merasa tidak kenal dan tidak bersalah sehingga dia diam saja sambil tersenyum.
Abu Bakar bertambah bingung tatkala Nabi SAW ikut tersenyum. Setelah orang itu agak lama melemparkan kata-kata cacian, Abu Bakar menjawab kelancangan orang tersebut. Ketika Abu Bakar membalas orang tersebut, Nabi SAW berhenti tersenyum dan terus pergi.
Abu Bakar merasa penasaran akan sikap Nabi SAW. Keesokan harinya, Abu Bakar bertanya pada beliau, “Mengapa Rasulullah tersenyum ketika orang itu mencaci maki dirinya yang tidak bersalah? Mengapa Rasulullah pergi ketika dirinya menjawab?”
Nabi SAW pun menjawab, “Ketika engkau tersenyum mendengarkan fitnah dan cacian tadi, engkau menerimanya dengan lapang dada karena engkau tidak bersalah. Aku pun tersenyum karena melihat Malaikat sibuk memindahkan (memigrasikan) catatan amalan kebajikan orang itu ke dalam dirimu, sedangkan catatan kesalahanmu dipindahkan ke orang itu.” (H.r. Ahmad).
Artikel terkait
Berita terbaru
Persib Bisa Salip Singapura dan Vietnam di Ranking AFC? Ini Hitung-hitungan Jika Menang di Kandang Melbourne Victory
Persib berpeluang mendongkrak ranking AFC Indonesia jika menang atas Melbourne Victory. Simak hitung-hitungan poin dan peluang salip Vietnam serta Singapura.
DPRD Dorong Dishub Bandar Lampung Bangun Fasilitas Penyeberangan Ramah Disabilitas pada 2027
DPRD Dorong Dishub Bandar Lampung Bangun Fasilitas Penyeberangan Ramah
LPPM UWG Malang Bidik Hibah Riset Nasional dan Publikasi Scopus, 70 Dosen Digembleng Empat Profesor
Program ini dirancang untuk mempersiapkan dosen agar semakin kompetitif dalam memperoleh pendanaan penelitian nasional sekaligus meningkatkan peluang publikasi pada jurnal ilmiah bereputasi.
Lapangan Maha Mulai Produksi, Pasokan Gas Nasional Bertambah
Lapangan West Ganal mulai produksi gas
