Prosesi Pemakaman Ali Khamenei Usai, Begini Sumpah Mojtaba untuk Membalas Kematian Ayahnya

Warga Syiah Irak mengikuti upacara pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di kota Najaf, Irak, Rabu (8/7/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyatakan akan membalas kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Hal itu disampaikan Motjaba setelah rampungmya rangkaian prosesi pemakaman Ali Khamenei.
“Kami berjanji untuk membalas darah pemimimpin yang gugur dan semua martir dari dua perang ini dari para pembunuh yang kriminal dan tercela,” kata Mojtaba dalam sebuah pernyataan tertulis yang dibacakan televisi pemerintah Iran pada Sabtu (11/7/2026), dikutip laman Al Arabiya.
Mojtaba menegaskan, pembalasan atas kematian Ayatollah Ali Khamenei adalah tuntutan bangsa dan pasti harus terjadi. “Terlepas apakah kita ada di sana atau tidak, ini akan tercapai, dan segera setiap orang merdeka di seluruh dunia akan memenuhi sebagian dari misi ilahi ini,” ujarnya.
Pernyataan tertulis tersebut merupakan pesan publik pertama Mojtaba setelah rampungnya rangkaian prosesi pemakaman ayahnya. Selama rangkaian tersebut, Mojtaba tak menampakkan diri di muka publik.
Ayatollah Ali Khamenei dimakamkan di kompleks Makam Imam Reza di Mashdad. Rangkaian prosesi pemakamannya berlangsung sekitar sepekan, yakni pada 4-9 Juli 2026. Tokoh yang memimpin Iran selama 37 tahun tersebut terbunuh akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu. Putri dan menantu Khamenei turut kehilangan nyawa mereka dalam serangan itu.
Setelah serangan itu, Iran menyerang fasilitas-fasilitas militer milik AS yang terdapat di sejumlah negara Teluk. Iran pun meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel. Salah satu dampak global akibat perang tersebut adalah meroketnya harga minyak dunia. Hal itu karena Iran memperketat akses lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Pada 17 Juni 2026 lalu, Iran dan AS akhirnya menyepakati Memorandum Islamabad. Memorandum tersebut menetapkan gencatan senjata baru selama 60 hari demi membuka kembali Selat Hormuz secara total. Penghentian perang atau pertempuran mencakup wilayah Lebanon.
Namun pada 27 Juni 2026, militer AS meluncurkan serangan udara ke infrastruktur pengawasan maritim, sistem komunikasi, dan situs pertahanan udara di pesisir pantai Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan serangan itu terpaksa dilakukan karena Iran terlebih dahulu menyerang kapal kargo di Selat Hormuz, sebuah tindakan yang dinilai melanggar komitmen Memorandum Islamabad.
Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan melancarkan serangan udara ke pangkalan atau fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain. Sejumlah negara, termasuk Pakistan selaku mediator, telah menyerukan agar AS dan Iran kembali mematuhi kesepakatan gencatan senjata.
Artikel terkait
Berita terbaru
Persib Bisa Salip Singapura dan Vietnam di Ranking AFC? Ini Hitung-hitungan Jika Menang di Kandang Melbourne Victory
Persib berpeluang mendongkrak ranking AFC Indonesia jika menang atas Melbourne Victory. Simak hitung-hitungan poin dan peluang salip Vietnam serta Singapura.
DPRD Dorong Dishub Bandar Lampung Bangun Fasilitas Penyeberangan Ramah Disabilitas pada 2027
DPRD Dorong Dishub Bandar Lampung Bangun Fasilitas Penyeberangan Ramah
LPPM UWG Malang Bidik Hibah Riset Nasional dan Publikasi Scopus, 70 Dosen Digembleng Empat Profesor
Program ini dirancang untuk mempersiapkan dosen agar semakin kompetitif dalam memperoleh pendanaan penelitian nasional sekaligus meningkatkan peluang publikasi pada jurnal ilmiah bereputasi.
Lapangan Maha Mulai Produksi, Pasokan Gas Nasional Bertambah
Lapangan West Ganal mulai produksi gas
