Sering Dikira Perhatian, Kenali Pola Manipulasi Terselubung dalam Hubungan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kasus penyekapan seorang perempuan berinisial YTR (28 tahun) oleh kekasihnya, Taufik Hidayat, di Bandung mengingatkan bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu meninggalkan luka fisik. Di balik relasi yang tampak biasa, seseorang dapat mengalami kontrol, manipulasi, dan intimidasi secara terus-menerus hingga kehilangan kebebasan atas dirinya.
Pola pengendalian terhadap pasangan seperti ini dikenal dalam psikologi sebagai coercive control atau kontrol koersif. Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak IPB University, Dr Yulina Eva Riany, menjelaskan kontrol koersif merupakan pola perilaku manipulatif, intimidatif, dan ancaman yang membuat korban perlahan kehilangan kebebasan, rasa aman, kepercayaan diri, hingga kemampuan mengambil keputusan.
“Yang perlu dikenali bukan hanya satu kejadian, melainkan pola hubungan yang terus mengikis otonomi korban,” kata Dr Yulina dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, kontrol koersif dapat muncul dalam berbagai bentuk. Antara lain dengan mengisolasi korban dari keluarga dan teman, mengontrol komunikasi dan media sosial, membatasi aktivitas, mengatur keuangan secara sepihak, hingga melakukan gaslighting yang membuat korban meragukan ingatan dan penilaiannya sendiri.
Karena berlangsung secara bertahap, perilaku tersebut sering kali disalahartikan sebagai bentuk perhatian atau kasih sayang. Padahal sebetulnya kontrol koersif sangatlah berbahaya.
Dokter Yulina mengatakan, korban kerap sulit meninggalkan hubungan yang mengandung kontrol koersif. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ketergantungan emosional, tekanan ekonomi, kekhawatiran terhadap anak, ancaman dari pelaku, hingga minimnya dukungan sosial.
“Jadi tidak tepat kalau ada orang bertanya ‘kenapa korban tidak mau pergi?’ Seharusnya yang ditanya ‘Faktor apa yang membuat korban sulit pergi?’,” kata dia.
Secara psikologis, kondisi tersebut dijelaskan melalui teori keterikatan (attachment), fenomena trauma bonding, dan learned helplessness. Korban dapat membentuk ikatan emosional yang kuat dengan pelaku akibat siklus kekerasan yang diselingi permintaan maaf dan janji berubah.
Artikel terkait
Berita terbaru
Persib Bisa Salip Singapura dan Vietnam di Ranking AFC? Ini Hitung-hitungan Jika Menang di Kandang Melbourne Victory
Persib berpeluang mendongkrak ranking AFC Indonesia jika menang atas Melbourne Victory. Simak hitung-hitungan poin dan peluang salip Vietnam serta Singapura.
DPRD Dorong Dishub Bandar Lampung Bangun Fasilitas Penyeberangan Ramah Disabilitas pada 2027
DPRD Dorong Dishub Bandar Lampung Bangun Fasilitas Penyeberangan Ramah
LPPM UWG Malang Bidik Hibah Riset Nasional dan Publikasi Scopus, 70 Dosen Digembleng Empat Profesor
Program ini dirancang untuk mempersiapkan dosen agar semakin kompetitif dalam memperoleh pendanaan penelitian nasional sekaligus meningkatkan peluang publikasi pada jurnal ilmiah bereputasi.
Lapangan Maha Mulai Produksi, Pasokan Gas Nasional Bertambah
Lapangan West Ganal mulai produksi gas
