REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menjadi mahasiswa difabel bukanlah perjalanan yang mudah. Tantangan mobilitas, akses materi kuliah, hingga stigma sosial menjadi bagian dari perjuangan sehari-hari.
Namun, ini tidak menyurutkan semangat Qurratul Ain yang akrab disapa Quin, wisudawan tunanetra Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Pendidikan (PBI FIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang berjuang di tengah keterbatasan.
Alasan Memilih UMJ
Quin yang berasal dari Gunungsitoli, Nias menceritakan bahwa awal mula dirinya memilih UMJ berangkat dari kondisi dirinya yang baru saja menjadi disabilitas netra. Saat itu, ia mengaku belum memiliki gambaran maupun informasi mengenai akses pendidikan untuk penyandang disabilitas.
“Sampai akhirnya, saya mulai memperbanyak relasi dan pertemanan. Dari sanalah pintu-pintu informasi terbuka, teman-teman banyak membantu dan mengarahkan saya step-by-step untuk mendaftar ke UMJ,” ujarnya.
Quin juga mengatakan keluarganya, mulai dari orang tua hingga buyutnya, merupakan sosok yang aktif menjaga dan mengembangkan Muhammadiyah di daerah asal mereka. Karena itu, ia mengaku sudah sangat akrab dengan Muhammadiyah sejak kecil, bahkan menempuh pendidikan TK dan SD di sekolah Muhammadiyah.
Terkait pilihannya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Quin mengaku keputusan tersebut merupakan kombinasi antara keberanian dan pencarian jati diri sebagai penyandang disabilitas netra.
“Kalau ditanya kenapa pilih Pendidikan Bahasa Inggris, sebenarnya ini kombinasi antara nekat dan cocologi sih, hahaha. Bermodalkan suka bahasa Inggris, padahal kemampuan saya waktu itu sangat minim,” tuturnya.
Selain itu, Quin menganggap kalau profesi guru paling cocok dan aksesibel untuk dirinya sebagai penyandang tunanetra.
Perjalanan Quin di UMJ
Saat pertama kali menjalani perkuliahan pada 2021, Quin mengaku sempat merasa takut dan overthinking, terlebih karena perkuliahan dilaksanakan secara daring akibat pandemi Covid-19.
“Muncul ketakutan-ketakutan yang wajar dirasakan oleh teman-teman disabilitas pada umumnya: ‘Apakah saya bisa diterima di sini?’, ‘Apakah nanti saya akan dibully atau diledek?’, dan ‘Mampu tidak ya saya mengikuti semua materi kuliah?’,” katanya.
Namun, setelah menjalani perkuliahan, ia merasa kekhawatiran tersebut tidak terjadi seperti yang dibayangkannya. Selama kuliah, Quin menghadapi berbagai tantangan, mulai dari mobilitas menuju kelas, materi visual dari dosen, hingga modul kuliah berbentuk gambar yang tidak dapat dibaca aplikasi screen reader miliknya.
“Tantangannya lumayan dinamis ya, bisa dibilang setiap hari menjalani hidup sebagai disabilitas netra itu adalah tantangan tersendiri,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, dirinya harus berulang kali mengedukasi dosen mengenai cara memberikan materi dan tugas yang lebih aksesibel bagi mahasiswa tunanetra.
“Mau tidak mau, kuncinya hanya satu: komunikasi yang aktif dan asertif. Solusinya sebenarnya sederhana, saya tidak boleh pasif,” jelas Quin.
Menurutnya, komunikasi menjadi jembatan utama untuk mengatasi berbagai keterbatasan fisik yang dihadapinya selama proses perkuliahan. Motivasi terbesar Quin dalam menyelesaikan pendidikan berasal dari kesadaran akan masa depan dan kondisi ekonomi keluarga.
“Saya sadar bukan dari keluarga yang bergelimang harta, saya sadar suatu hari nanti orang tua akan meninggalkan saya selamanya, dan saya sangat sadar bahwa pendidikan adalah salah satu jalan utama untuk memutus rantai kemiskinan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya membekali diri dengan kemampuan intelektual dan keterampilan sosial sebagai penyandang disabilitas netra. Dalam proses perkuliahan, Quin mengaku mendapatkan dukungan besar dari teman-teman dan dosennya.
Ia mengatakan teman-temannya tidak pernah membeda-bedakan dirinya dan sering membantu mobilitas sehari-hari. “Bahkan mereka sering sekali sukarela antar-jemput saya ke kosan, sebuah kebaikan yang sangat saya apresiasi,” katanya.
Selain itu, Quin mengungkapkan pengalaman paling berkesan selama menjadi mahasiswa UMJ adalah ketika dirinya mulai jatuh cinta dengan dunia pendidikan, khususnya saat mempelajari Psikologi Perkembangan Anak.
“Awalnya saya sempat merasa salah jurusan karena sebenarnya saya kurang tertarik pada dunia pendidikan atau menjadi guru. Namun lambat laun, seiring berjalannya kuliah, saya mulai jatuh cinta,” ujarnya.
Harapan dan Pesan
Sebagai wisudawan tunanetra, Quin berharap UMJ dapat terus meningkatkan dukungan terhadap mahasiswa disabilitas dengan membentuk Lembaga Layanan Disabilitas (LLD), memperhatikan kebutuhan aksesibilitas mahasiswa, serta membantu pengurusan Beasiswa ADIK Difabel dari pemerintah.
“Jika universitas merasa belum mampu menanggung penuh biaya kuliah mahasiswa disabilitas secara mandiri, tidak apa-apa. Namun setidaknya, tolong bantu dan fasilitasi kami untuk mengurus Beasiswa ADIK Difabel dari pemerintah,” harapnya.
Di akhir wawancara, wisudawan tunanetra ini memberikan pesan kepada mahasiswa difabel lainnya agar tetap semangat dan tidak menyerah dalam menempuh pendidikan.
“Jangan pernah menyerah. Saya tahu persis bagaimana rasanya menjalani perkuliahan dengan kondisi netra atau disabilitas lainnya itu dinamikanya susah-susah gampang. Namun, perjuangkanlah apa yang sudah kamu pilih sejak awal. Kita tidak boleh gagal di tengah jalan,” tutup Quin.