Markas Pertahanan Amerika, Pentagon.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –– Departemen Pertahanan Amerika Serikat mempercepat transformasi militernya dengan menandatangani perjanjian strategis bersama delapan perusahaan kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat kemampuan operasional pada jaringan rahasia militer.
Dalam pernyataan resmi pada Jumat, Pentagon menyebut kerja sama ini bertujuan mendorong pembentukan kekuatan tempur berbasis AI yang mampu meningkatkan keunggulan pengambilan keputusan di berbagai domain peperangan.
Delapan perusahaan yang terlibat dalam perjanjian tersebut adalah SpaceX, OpenAI, Google, Nvidia, Reflection, Microsoft, Amazon Web Services, serta Oracle.
“Perjanjian ini mempercepat transformasi menuju pembentukan militer Amerika Serikat sebagai kekuatan tempur yang mengutamakan AI, sekaligus memperkuat kemampuan prajurit dalam mempertahankan keunggulan pengambilan keputusan di semua domain peperangan,” demikian pernyataan Departemen Pertahanan AS.
Integrasi teknologi AI dinilai akan memungkinkan militer Amerika Serikat mengolah data dalam jumlah besar secara cepat dan presisi, sehingga meningkatkan efektivitas strategi di medan tempur modern.
Di sisi lain, penerapan AI juga diperluas dalam operasi taktis. Angkatan Laut AS dilaporkan meningkatkan penggunaan teknologi ini untuk mendeteksi ranjau laut di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
Untuk mendukung upaya tersebut, Angkatan Laut menandatangani kontrak senilai hingga 99,7 juta dolar AS dengan Domino Data Lab, perusahaan teknologi berbasis di San Francisco.
Perangkat lunak yang dikembangkan mampu menganalisis data dari berbagai sensor secara real time, sehingga sistem bawah air tanpa awak dapat mengidentifikasi jenis ranjau baru dengan lebih cepat dan akurat.
Langkah ini menegaskan semakin pentingnya peran kecerdasan buatan dalam strategi pertahanan modern, di mana kecepatan informasi dan akurasi analisis menjadi faktor kunci dalam menentukan keunggulan di medan perang.
sumber : Xinhua