PATI, KOMPAS.com – Di sebuah sudut Kabupaten Pati, langkah kaki Yheni Aprilia Susanti tak pernah benar-benar berhenti.
Pagi hingga siang ia berdiri di depan kelas sebagai guru seni di SMP Negeri 1 Tambakromo.
Malam hari, suaranya mengalun sebagai sinden. Di sela-sela itu, tubuhnya tetap bergerak—menari, melatih, dan berpindah dari satu panggung ke panggung lain.
Namun di balik semua aktivitasnya, ada satu kenyataan yang tak bisa diabaikan, yaitu gaji sebagai guru honorer yang ia terima hanya sekitar Rp 345.000 per bulan.
Baca juga: Guru Honorer Ngada: Mengajar untuk Pengabdian, Beternak demi Kehidupan
“Kalau jujur, untuk bensin saja tidak cukup,” ujarnya pelan kepada Kompas.com.
Sudah satu tahun Yheni menjalani profesi sebagai guru GTT (honorer). Baginya, mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati.
Namun realitas ekonomi membuatnya harus memutar otak agar tetap bisa bertahan.
Alih-alih menyerah, ia memilih memperluas langkah.
Di rumahnya, Yheni membuka sanggar tari kecil-kecilan. Ia juga menerima panggilan melatih dari berbagai sekolah dan instansi.
Bahkan, di Pondok Pesantren Desa Maitan Miftahus Shudur dan beberapa lembaga lain, ia aktif membimbing siswa-siswi mengenal seni tari.
Saat malam tiba, perannya berganti. Ia menjadi sinden dalam pertunjukan campursari—sebuah bidang yang sudah ia tekuni sejak bangku SMP.
Baca juga: Dedi Mulyadi Siapkan Kepgub untuk Cairkan Gaji 3.823 Guru Honorer
Sementara di waktu tertentu, ia juga mengambil pekerjaan sebagai penari dan cucuk lampah, terutama saat musim hajatan.
“Kalau Syawal itu bisa sampai empat lokasi sehari. Malamnya masih nyinden,” katanya.
Perjalanan panjang ini bukan hal baru bagi Yheni. Sejak kuliah, ia sudah terbiasa membagi waktu antara pendidikan dan pekerjaan.
Ia bolak-balik Pati–Solo setiap pekan demi menyelesaikan studi, sambil tetap menerima job untuk membiayai kebutuhan kuliah hingga skripsi.