Ekonomi Sirkular Berpotensi Sumbang Rp512,7 Kuadriliun bagi Perekonomian Global

KOMPAS.com – Hampir sepertiga dari Produk Domestik Bruto (PDB) global hilang setiap tahunnya akibat penggunaan energi dan sumber daya yang sia-sia.
Menurut laporan terbaru Circularity Gap Report yang dikeluarkan oleh lembaga think tank Circle Economy bekerja sama dengan Deloitte Belanda, nilai kerugian tersebut setara dengan sekitar 1 Euro (sekitar Rp 20.186) dari setiap 3 Euro (sekitar Rp 60.559) nilai ekonomi yang dihasilkan atau total lebih dari 25 triliun Euro (sekitar Rp512,7 Kuadriliun) yang terbuang percuma setiap tahunnya.
Melansir Edie, Jumat (17/4/2026) beralih dari model ekonomi tradisional ke ekonomi sirkular disebut dapat membantu menyelamatkan sebagian besar nilai ekonomi tersebut.
“Sebagian besar hilangnya nilai ini bukan sekadar masalah kecil atau kebetulan, melainkan karena masalah struktur dan sistem yang ada,” ujar Alvaro Conde, pimpinan laporan sekaligus penulis utama penelitian tersebut.
Baca juga: Startup Ekonomi Sirkular Ciptakan Peluang di Pasar yang Sulit Ditembus
Penggunaan energi dan sumber daya yang sia-sia
Ekonomi saat ini dirancang untuk mengejar keuntungan maksimal tanpa peduli dampaknya bagi manusia dan bumi.
Hasilnya? Pengambilan sumber daya alam yang terus meningkat, barang-barang yang tidak terpakai secara maksimal, dan penumpukan sampah. Hal ini terjadi karena aturan dan tolak ukur ekonomi yang umum digunakan justru mendorong terjadinya hal-hal tersebut.
Laporan ini menekankan bahwa tolak ukur umum seperti PDB tidak memperhitungkan upaya penghematan nilai serta mengabaikan masalah sampah dan habisnya sumber daya alam. Akibatnya, hilangnya nilai ekonomi yang besar ini sering kali tidak terlihat dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Laporan-laporan sebelumnya lebih fokus pada “Metrik Sirkularitas”, yaitu perkiraan jumlah bahan yang digunakan di seluruh dunia yang berasal dari hasil daur ulang atau penggunaan kembali. Dalam laporan tahun 2025, angka tersebut hanya berada di level 6,9 persen, turun dari 7,2 persen pada tahun 2023.
Alih-alih menggunakan indikator lingkungan, untuk edisi 2026 ini, Circle Economy lebih fokus pada sudut pandang ekonomi. Di saat penggunaan bahan baku terus melonjak sementara produktivitas sumber daya dunia cenderung jalan di tempat selama satu dekade terakhir, laporan ini menunjukkan bahwa ekonomi sirkular adalah cara bagi bisnis dan negara untuk kembali meraih keuntungan efisiensi yang nyata.
Selain menjadi cara untuk melindungi alam dan mengurangi emisi, laporan tersebut menyatakan bahwa ekonomi sirkular juga menghadirkan peluang ekonomi yang sangat besar.
Peluang ekonomi sirkular
Untuk menghitung total “Kesenjangan Nilai”, Circle Economy mengukur dua hal yakni nilai fungsional berupa manfaat material dan produk serta harga pasarnya dan nilai yang tercipta seperti dampak lingkungan dan sosial yang lebih luas, baik yang positif seperti pendidikan maupun yang negatif seperti polusi.
Terkait hilangnya nilai tersebut, laporan ini mengidentifikasi lima penyebab utamanya: kerugian selama proses pengolahan, pemborosan energi, sisa dan pemborosan makanan, sampah dari barang yang sudah tidak terpakai, serta penyusutan aset modal.
Kerugian nilai global terbesar, yang diperkirakan mencapai 10 triliun euro (sekitar Rp201.860 triliun), terjadi pada sampah akhir pakai, yaitu ketika produk atau bahan dibuang begitu saja tanpa digunakan kembali atau didaur ulang.
Menurut WRAP, jumlah sampah diperkirakan akan melonjak lebih dari 80 persen pada tahun 2050 dibanding tahun 2020. Ini artinya, ribuan triliun nilai ekonomi akan terus hilang setiap tahun jika tidak ada tindakan untuk mendorong ekonomi sirkular.
Bidang utama lainnya yang disorot laporan ini adalah pemborosan energi, yang nilainya diperkirakan mencapai 8,7 triliun euro per tahun atau sekitar Rp175.618 triliun.
Baca juga: Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Artikel terkait
Berita terbaru
Peringati Hari Santri Nasional, Bupati Toha Ajak Santri Bangun Muba Lebih Cepat
KATANDA.ID, Muba – Di tengah ribuan santri yang menunduk khusyuk di Pendopoan Griya Bumi Serasan […]
Pesan Mengharukan Jadi Akhir Kisah Cristiano Ronaldo di Timnas Portugal, Begini Pernyataan Lengkapnya
Cristiano Ronaldo resmi mengakhiri perjalanan panjangnya bersama Timnas Portugal. Megabintang berusia 41 tahun itu memutuskan pensiun dari sepak bola internasional setela
Federasi Sepak Bola Mesir memutuskan untuk memecat Hossam Hassan
Hari-hari Hossam Hassan di kursi kepelatihan timnas Mesir kini tinggal menghitung hari, setelah sebuah laporan media mengungkap bahwa para pejabat federasi sepak bola telah...
ALSA Unhas Gelar Kompetisi Bahasa Inggris Tingkat Nasional, Diikuti 355 Peserta
MataKita.co, Makassar – Asian Law Students’ Association Local Chapter Universitas Hasanuddin (ALSA LC Unhas) kembali menggelar ALSA English Competition (AECO) 2026 setelah terakhir kali...
